Ditengah Paparan BPBD Prabowo Potong Untuk Angkat Telepon, Kirim Segera Bantuan Ke Kalimantan Tengah 

Prabowo menjawab telepan pada saat rapat dengan DPBP di Kalimantan Tengah 23/8/2026

PALANGKARAYA,beninginfo.co – Suasana di ruang rapat penanganan Karhutla Kalimantan Tengah, Sabtu 22 Agustus 2026, awalnya berjalan formal. Layar proyektor menyala. Pejabat BPBD Kalteng sedang memaparkan data titik api, luas lahan terbakar, dan kebutuhan logistik di lapangan. Di kursi utama, Presiden Prabowo Subianto duduk menyimak.

Tiba-tiba HP bergetar,Tanpa menunggu paparan selesai, Prabowo langsung mengangkat telepon. Suaranya terdengar jelas di ruangan itu.

“Kirim segera ke Kalimantan Tengah.” Kalimat pendek. Tapi isinya perintah.Belum diketahui siapa di ujung telepon. Yang pasti, ini soal bantuan. Bisa logistik, bisa personel, bisa peralatan pemadam. Dan Prabowo tidak mau pakai lama.

Momen itu terekam di siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden. Netizen pun langsung ramai. Banyak yang komen.”Ini baru presiden gercep.”

Rapat hari itu memang penting. Hadir Seskab Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dan Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo. Semua fokus membahas bagaimana mempercepat penanganan kebakaran yang masih terjadi di beberapa wilayah Kalteng.

Tapi bagi Prabowo data di slide bisa menyusul. Yang tidak bisa ditunda adalah bantuan ke lapangan.

“Kalau kita kelamaan rapat, di bawah sana apinya makin besar. Kirim dulu, lapor belakangan,”begitu kira-kira pesan yang ditangkap dari sikap Presiden.

Ini bukan aksi spontan pertama hari itu. Sebelum mendarat di Palangkaraya, Prabowo lebih dulu ke *Pontianak, Kalimantan Barat. Di sana, setelah rapat di Posko Karhutla, Presiden langsung turun ke Desa Limbung, Kubu Raya untuk cek lokasi kebakaran.

Hasilnya Instruksi tegas, tambah pompa pompanisasi, perbanyak bor air di lahan gambut, dan kirim 3 batalyon TNI tambahan sekitar 1.500 personel dari luar Kalimantan. Personel itu mulai digeser sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi, 23 Agustus 2026.

Dari Kalbar ke Kalteng, polanya sama: lihat langsung, putuskan cepat, eksekusi sekarang.

Kembali ke Palangkaraya. Setelah telepon itu, rapat dilanjutkan. Prabowo kembali menyimak laporan BPBD dan berdiskusi dengan jajaran. Tapi aura di ruangan sudah beda. Ada rasa “kita harus bergerak lebih cepat.

Karena di lapangan, asap masih mengepul. Petugas masih berjibaku. Dan masyarakat masih butuh bantuan.

Langkah Prabowo memotong paparan demi satu panggilan telepon itu jadi bukti: di mata Presiden, penanganan Karhutla bukan soal seremoni. Ini soal kecepatan. Soal nyawa, hutan, dan napas jutaan orang. Bantuan harus jalan dulu. Baru laporannya menyusul.***(Ari Wibowo)