PEKANBARU, Beninginfo.com – Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, S.Hut., M.T., secara resmi menutup kegiatan Pelatihan Petani Kelapa Sawit bertajuk “Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik” yang diselenggarakan oleh Best Planter Indonesia (BPI), Jumat (24/7/2026), di Ballroom Hotel Furaya, Pekanbaru.
Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Juli 2026, merupakan angkatan terakhir dari rangkaian pelatihan petani sawit yang digelar BPI di Provinsi Riau sejak Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani kelapa sawit melalui penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Turut hadir dalam acara penutupan tersebut Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi, Direktur Utama Best Planter Indonesia yang diwakili Direktur Operasional BPI Friyandito, jajaran staf BPI, serta seluruh peserta pelatihan dari berbagai daerah di Provinsi Riau.
Direktur Operasional BPI, Friyandito, mengatakan pelatihan ini menjadi penutup rangkaian program peningkatan kompetensi petani sawit di Riau. Sebelumnya, BPI telah menyelenggarakan beberapa angkatan pelatihan dengan tema yang berbeda-beda.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kualitas SDM pekebun, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit. Setelah Riau, program pelatihan serupa akan dilanjutkan di Provinsi Sumatera Barat dan Aceh,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, menyampaikan apresiasi kepada Best Planter Indonesia yang melaksanakan pelatihan tersebut dengan dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Menurutnya, pelatihan ini merupakan langkah nyata dalam mendorong penggunaan pupuk organik sebagai bagian dari pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Saya berharap seluruh ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan di kebun masing-masing. Bahkan, apabila ke depan para peserta mampu mengembangkan usaha produksi pupuk organik, hal tersebut dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi para pekebun,” kata Supriadi.
Ia menegaskan bahwa penggunaan pupuk organik merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan sistem perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Semakin besar penggunaan pupuk organik, maka semakin baik pula arah pembangunan perkebunan sawit yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Supriadi juga mengungkapkan bahwa Provinsi Riau sebagai daerah dengan luas perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, yakni sekitar 3,8 juta hektare, memiliki kebutuhan pupuk yang sangat besar.
“Setiap tahun kebutuhan pupuk di Riau diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp20 triliun. Ini menunjukkan besarnya peluang sekaligus tantangan dalam penyediaan pupuk, termasuk pengembangan pupuk organik yang lebih efisien dan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini diharapkan para petani mampu memproduksi dan mengaplikasikan pupuk organik secara mandiri sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas kebun, serta mendukung terwujudnya perkebunan kelapa sawit yang berdaya saing dan berkelanjutan. **Jondri .A

















