ROHULbeninginfo.com || Puluhan pekerja di sebuah kebun sawit Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang pada Jumat (14/8/2026).
Korban, Rizaldi (44), mengaku ia dan rekan-rekannya tidak melawan saat diserang. “Kami hanya bisa bilang ‘aduh, aduh, ampun, ampun, Pak’. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami,” ujarnya, Sabtu (15/8/2026).
Peristiwa terjadi saat para pekerja berada di mess usai membersihkan kebun. Sekitar ratusan orang datang menggunakan tiga truk colt diesel dan dua mobil double cabin sambil berteriak “serang”.
Para pekerja mengaku dipukul menggunakan kayu dan besi, ditendang, diseret, bahkan ada yang diancam senjata api. Dua ponsel milik Gunawan, pekerja lainnya, disebut dirampas. Hidung dan tangannya terluka hingga harus diperban.
Sebanyak 25 orang dilaporkan mengalami luka. Salah satunya dalam kondisi kritis. Sementara sekitar 28 orang lainnya masih tertinggal di lokasi dan belum diketahui kondisinya. Setelah kejadian, korban dibawa keluar dengan truk dan berteriak minta tolong saat melintas di depan Polsek Tambusai Utara.
Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, menyebut lahan Afdeling 19 dan 21 seluas sekitar 2.000 hektare itu sebelumnya dikelola PT Torganda melalui Koperasi Karya Bakti. Pada 2025, lahan disita Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) karena disebut masuk kawasan hutan dan diserahkan ke PT Agrinas Palma Nusantara.
Masyarakat kemudian berupaya merebut kembali lahan yang mereka klaim sebagai miliknya. Aziz menduga penyerangan melibatkan pihak Agrinas, namun hal itu masih berupa tudingan dan belum terbukti. Ia menyatakan akan membawa kasus ini ke Mabes Polri, DPR RI, dan Presiden.
Polisi Periksa Saksi dan Visum Korban
Dirreskrimum Polda Riau, Kombes Hasyim Risahondua, membenarkan adanya laporan. Polisi telah melakukan visum, memeriksa saksi, dan tengah mencari keberadaan para pelaku. “Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas,” kata Hasyim.
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani telah dimintai konfirmasi, namun belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditulis.****(Ari Wibowo).



















