Oleh: Desi Melza SHum
(Pegiat Literasi Islam Pekanbaru)
BEBERAPA bulan terakhir masyarakat sudah dibiarkan hidup berdampingan bersama asap karhutla. Asap terus saja mengepung wilayah tempat tinggal serta berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Tim penyelamat sudah berjibaku memadamkan api namun asap enggan pergi. Hingga kualitas udara yang dihirup sudah dalam taraf yang membahayakan. Hal ini menjadi sangat serius butuh penanganan lebih lanjut agar masyarakat kembali menikmati langit biru dan udara bersih.
Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia belum banyak berubah yang ditandai kemunculan kasus-kasus kematian warga diduga akibat asap serta sorotan aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo DiCaprio. Dua warga di lokasi terpisah di Sumatra dan Kalimantan, yang terdapat banyak titik api, diduga meninggal akibat asap karhutla.(bbc.com,08/10/2026)
Berita ini menyampaikan bahwa kondisi kesehatan masyarakat benar-benar terancam. Untuk bernafas saja, mereka semakin sulit mendapatkan udara bersih. Dua kasus yang terjadi di daerah yang berbeda , menggambarkan kondisi darurat yang butuh penanganan segera. Bagi kelompok rentan seperti pengidap asma, bayi dan lansia sangat berbahaya bagi kesehatan mereka. Kondisi ini sempat viral agar pemerintah paham bahwa kondisi ini darurat. Kasus yang belum dilaporkan atau tidak viral juga pasti ada. Ada kemungkinan kedepannya akan terus bermunculan.
Kapitalisme Membawa Petaka
Selain lingkungan yang rusak, karhutla juga berdampak kepada kesehatan, hilangnya nyawa bahkan ekonomi yang lesu. Banyak hutan yang rusak akibat keserakahan manusia. Tidak hanya manusia yang terdampak, tumbuhan dan hewan juga merasakan kepedihan hidup dalam atmosfer kapitalisme.
Sistem kehidupan kapitalis berlandaskan keuntungan materi semata. Segala sesuatu dipandang ketika memiliki untung rugi. Jangankan untuk melindungi keselamatan masyarakat, menyelesaikan karhutla sesegera mungkin juga mustahil bagi mereka. Negara sudah gagal melindungi masyarakat dari dampak yang sudah berbulan-bulan dirasakan.
Karhutla merupakan dampak dari kebijakan pengelolaan hutan yang membawa kerusakan lingkungan, ekonomi dan kesehatan. Karhutla membawa bencana ekologis yang sangat merusak tatanan kehidupan. Musim kering kebakaran dan kesulitan air bersih, ketika hujan datang banjir pun datang. Ini dirasakan masyarakat setiap tahun.
Berulangnya pembakaran hutan yang mengakibatkan karhutla, menunjukkan tidak adanya hukum yang tegas bagi pelaku ataupun korporasi. Hal ini menggambarkan situasi dimana posisi negara berpihak. Sehingga masyarakat menjadi korban dari keserakahan kebijakan mereka.
Syariat Membawa Maslahat
Penanganan karhutla menuntut kesiagaan para pemegang pemerintahan. Terlebih kondisi darurat ini menyangkut kesehatan seluruh masyarakat. Kesehatan merupakan hak mendasar yang harus dipenuhi negara. Kondisi ini darurat dan butuh penanganan segera. Namun, masyarakat hanya berdiri sendiri untuk menyelamatkan diri dari kondisi darurat ini.
Syariat Islam menetapkan negara merupakan pengurus bagi rakyatnya. Setiap urusan masyarakat harus negara yang mengurusi. Kondisi darurat ini berpengaruh terhadap kesehatan yang harus segera ditangani. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)”.
Ditambah lagi, sanksi yang tidak tegas terhadap para perusak lingkungan membuat mereka tidak pernah jera dan selalu berbuat kerusakan. Islam sudah memiliki sanksi yang tegas dan jelas untuk menindak perusak lingkungan sesuai syariat.
Syariat Islam akan membawa kepada kemaslahatan. Hal ini berlaku jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Semua aturan kembali kepada Islam. Hal ini yang akan mampu memberikan kehidupan terbaik bagi umat terbaik.
Wallahu a’lam bishawabh. (*)


















