Warga Kelambir Lima Marah, Lapangan Bola Temes Diduga Jadi Ajang Drama Mafia Tanah

Lapangan bola kaki temes klambir V yang di pagar oleh oknum bernama Arif dengan modus menjaga aset.

Deliserdang,beninginfo.com — Hamparan Perak, Deli Serdang kembali memanas. Ratusan warga Dusun Kelambir Lima, Kampung dan Kebun bersatu meluapkan amarahnya. Pemicunya satu, Lapangan Bola Temes yang selama puluhan tahun menjadi jantung kegiatan olahraga masyarakat, tiba-tiba dipagari kawat duri oleh seorang oknum bernama Arif. Selasa(22/9/2026).

Lapangan yang terletak di tepi jalan itu, yang selama ini menjadi ruang hidup bagi generasi muda untuk berolahraga dan menjauhkan diri dari bahaya narkoba, kini diklaim sepihak sebagai aset yang harus dijaga. Alasan yang bagi warga sangat tidak masuk akal.

Padahal faktanya, lapangan itu adalah milik bersama masyarakat Kelambir Lima. Bukan tanah warisan, bukan tanah pribadi, dan bukan pula aset mafia tanah yang bisa dikapling seenaknya.

Menurut warga bernama Eman yang turun langsung ke lokasi, fakta di lapangan sangat jelas dan tidak bisa dibantah. Lapangan yang diteriaki mafia tanah itu adalah fasilitas umum untuk olahraga, untuk pembinaan generasi muda bangsa.

“Ini lapangan kami, milik bersama. Bukan tanah warisan mafia tanah yang tiba-tiba mengaku menjaga aset dan berani memagari tanpa surat yang jelas. Main pagar sepihak, itu yang bikin warga marah,” tegas Eman dengan nada kesal.

Alibi yang digunakan oknum Arif pun dinilai warga sebagai alibi konyol. Saat dikonfirmasi langsung oleh warga, Arif berdalih ingin menyelamatkan tanah tersebut dari mafia tanah. Dalih klasik yang justru menimbulkan tanda tanya besar.

Warga langsung membantah keras. Tidak ada yang mau merebut tanah itu, karena sejak awal tanah itu memang peruntukannya untuk lapangan olahraga masyarakat Kelambir Lima. Justru yang menjadi pertanyaan, kenapa Arif memagari tanah tersebut tanpa izin dari masyarakat dan tanpa sepengetahuan Kepala Lingkungan.

Kepling Kelambir Lima, Rusli, angkat bicara.

“Ini akal akalan aja . Pagar dulu, alasan jaga aset, ujung-ujungnya tak jelas. Ini lapangan adalah prasarana olahraga masyarakat Kelambir Lima Temes dan sekitarnya. Tujuannya untuk apa? Untuk menghindari rusaknya moral generasi muda, untuk mencegah anak-anak kita terjerumus ke dalam narkoba. Makanya kami dari pemerintahan lingkungan dan masyarakat memajukan sarana olahraga di sini,” tegas Kepling Rusli.

Kepling Rusli menegaskan, lapangan bola kaki Temes Kelambir Lima itu adalah milik umum untuk kepentingan hajat hidup masyarakat banyak, bukan untuk kepentingan pribadi oknum yang tidak bertanggung jawab.

Yang membuat warga semakin geram, meski sudah dihentikan oleh Kepling agar pekerjaan pemagaran tidak dilanjutkan, pada Selasa pagi mulai jam 8 pagi hingga jam 5 sore, para pekerja suruhan Arif tetap nekat bekerja di lokasi. Padahal Babinsa setempat sudah menegaskan bahwa lokasi tersebut adalah sarana olahraga untuk masyarakat.

Kenapa masih dipagar? Ada apa di balik ini? Kenapa lapangan bola kaki Kelambir Lima Temes yang menjadi harapan generasi bangsa justru menjadi ajang perebutan lahan oleh oknum yang diduga merasa kebal hukum?

Warga menuntut tindakan tegas. Tindakan memagari fasilitas umum tanpa dasar hukum yang jelas, tanpa surat yang sah, dan tanpa izin dari masyarakat serta Kepling, adalah perbuatan yang sangat merugikan masyarakat banyak dan bisa diproses secara hukum.

“Ini harus ditindaklanjuti oleh pihak penegak hukum dan harus diproses. Karena ini merugikan masyarakat banyak untuk kepentingan olahraga bersama,” tegas warga yang berada di lokasi.

Sampai kapan lapangan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya bibit-bibit atlet muda, tempat untuk menyelamatkan generasi dari bahaya narkoba, harus menjadi ajang kepentingan pribadi dan dugaan aset para mafia tanah? Masyarakat Kelambir Lima kini menunggu keadilan dan ketegasan dari aparat penegak hukum.

Hingga berita ini diturunkan, oknum bernama Arif yang melakukan pemagaran belum memberikan klarifikasi resmi terkait alas hak atas lahan yang diklaimnya sebagai aset tersebut.***(Ari wibowo)