Rublik Opini
Penulis : Kavilah Somarito
Pimpinan Redaksi www.beninginfo.com
Wartawan Utama
MASIH teringat jelas dibenak masyarakat Indonesia khususnya di Provinsi Riau, kejadian sekitar 2019 silam yakni Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Puluhan hektar bahkan ratusan hektar hutan dan lahan terbakar yang mengakibatkan kabut asap tebal menyelimuti dan “mengepung” wilayah Provinsi Riau sehingga mengganggu aktifitas masyarakat khususnya di Provinsi Riau dan nyaris lumpuh, jarak pandang pernah mencapai 1 meter dan diwajibkan seluruh masyarakat memakai masker, dan mengurangi aktifitas di luar rumah.
Kabut asap yang cukup tebal kala itu, membuat masyarakat pasrah dan menunggu keajaiban dari Allah SWT Tuhan yang maha esa, agar musibah Karhutla cepat berlalu. Masyarakat terus berdoa dari dalam rumah, dengan deraian air mata dan sesak nafas serta tetap memakai masker.
“Ya Allah yang maha kuasa, lindungilah kami dari bencana kabut asap ini, dan berikanlah kami kekuatan dan kesehatan dalam musibah ini. Ya Allah, berikanlah solusi kami untuk menghadapi Karhutla ini,” doa dengan penuh harapan musibah cepat berlalu.
Kondisi kabut asap tebal kala itu, juga mengganggu aktifitas negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Warga disana juga mengecam kabut asap Karhutla tersebut.
Pemerintah Republik Indonesia saat itu dipimpin Presiden Ir H. Joko Widodo, dan khususnya di Pemerintah Provinsi Riau yang saat itu di pimpin Gubernur Riau Drs H. Syamsuar, MSi dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yakni Kapolda Riau, Danrem, Kejaksaan Tinggi (Kejati), dan para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) / Kepala Dinas serta masyarakat yang peduli Karhutla terus berupaya berjibaku melakukan pemadaman api di kawasan hutan dan lahan.
Saat itu, ada salah satu inovasi cemerlang muncul dari Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Efendi, SH, SIK, MSi untuk mendeteksi Karhutla dengan adanya Dasboard pemantau hotspot atau titik panas dan diberi mana dasboard Lancang Kuning. Dasboard ini menggunakan jasa internet dan satelit yang di operasikan tim Polda Riau, dan terhubung ke setiap Polres se-Riau untuk bergerak cepat apabila muncul hotspot.
Kala itu dasboard tersebut bisa dikatakan cukup bermanfaat dan membantu memantau munculnya titik hotspot baru, sehingga dapat dilakukan penanganan dini agar tidak melebar dan membakar lebih luas.
Singkat kejadian, masalah Karhutla dapat teratasi dan masyarakat mulai merasakan hidup normal kembali dan menghirup udara segar selayaknya manusia bukan ikan salai.
Sekitar tujuh tahun berlalu, saat ini 2026, kejadian serupa kembali terjadi. Karhutla hebat dan meluas terjadi dibeberapa kabupaten dan kota khususnya di Riau, masyarakat kembali ke fase-fase keterbatasan aktifitas, sehingga sekolah diliburkan dan masyarakat kembali mengenakan masker demi kesehatan.
Akibat Karhutla hebat tersebut, Presiden Republik Indonesia Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto beserta rombongan yakni Kapolri, Panglima TNI, Sekretaris Kabinet Merah Putih, Menteri dan BNPB datang ke Kota Pekanbaru, Provinsi Riau dan menggelar rapat penanganan Karhutla dengan Plt Gubernur Riau Ir H. SF Haryanto, MT, IPU beserta Kapolda Irjen Pol. Herry Heryawan, Pangdam XIX Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo.
Tentunya kedatangan Presiden Prabowo mantan Komandan Jenderal Kopassus itu ke Riau sangat berarti bagi masyarakat Riau khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Harapan demi harapan terucap agar Karhutla cepat berlalu.
Karhutla ini tentunya sangat menguras tenaga, fikiran, dan keuangan yang mana saat ini kondisi keuangan sedang tidak baik-baik saja. Dan penanganan Karhutla harus segera mungkin untuk menghindari kemungkinan kejadian yang buruk.
Pemaparan demi pemaparan, gagasan demi gagasan satu persatu diucapkan para pimpinan di negeri lancang kuning ini, dihadapan Presiden Prabowo. Semua satu tujuan yakni menyelesaikan musibah Karhutla di Riau khususnya.
Presiden Prabowo yang juga mantan menantu Presiden Republik Indonesia ke 2 yakni Jenderal Besar (Purn) H. Soeharto itu memberikan bantuan dan semangat kepada masyarakat Riau serta pimpinan daerah untuk segera menuntaskan Karhutla ini.
Di lain sisi, ditengah-tengah masyarakat Riau memperbincangkan musibah Karhutla dengan kabut asap tersebut, mengingatkan kembali pada fase sebelumnya yang mana adanya suatu inovasi saat itu dasboard Lancang Kuning. Apakah dasboard tersebut selama ini masih aktif atau sudah vakum. Wallahu alam.
Banyak masyarakat bertanya-tanya tentang dasboard lancang kuning itu, akan tetapi masyarakat hanya dapat berfikir positif dan memberikan semangat untuk segera menuntaskan masalah Karhutla ini.
Semoga pimpinan negeri lancang kuning ini diberikan kekuatan dan pemikiran yang jernih dengan semangat gotong royong untuk menuntaskan Karhutla ini karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak, bahkan bukan hajat hidup manusia saja, akan tetapi juga makhluk hidup lainnya.
Kami masyarakat hanya dapat berdoa dan membantu misi kemanusiaan semampunya, untuk bersama-sama menghadapi musibah Karhutla ini.
“Semoga Karhutla cepat berlalu, jangan sampai memakan korban nyawa,” aamiin ya robbal alamin.
Tetap semangat wahai pemimpin negeri, doa kami menyertai usaha dan upaya menghadapi musibah ini.***

















