Ujung Batu,beninginfo.com -Ada yang hilang dari pagi di Ujung Batu Kota.Jika dulu setiap pagi warga disapa oleh udara yang segar, asri, embun yang masih menggantung di daun karet, dan matahari yang terbit dengan jernih, kini semua itu tinggal kenangan. Yang ada hanyalah lapisan kabut asap yang menggantung rendah, menyengat hidung, dan menyesakkan dada.
Sudah hampir satu bulan. Hampir satu bulan penuh wilayah Ujung Batu dan hampir seluruh Kabupaten Rokan Hulu hidup dalam kepungan kabut asap. Bencana yang datang setiap tahun ini kembali menyapa, dan tahun ini terasa lebih lama dan lebih pekat.
Pagi ini, Jumat,(23/10/2026), pantauan langsung di pusat Kota Ujung Batu, pemandangan itu terlihat sangat jelas. Matahari terlihat pucat di balik selubung asap. Udara yang dihirup tidak lagi memberikan kesegaran, melainkan rasa perih di tenggorokan. Para pengendara motor terpaksa menyalakan lampu di pagi hari karena jarak pandang yang menurun. Di sekolah-sekolah, anak-anak terlihat lesu.
Kondisi inilah yang membuat Lembaga Bantuan Hukum Rokan Darussalam (LBH RODAS) tidak bisa tinggal diam. Sebagai lembaga yang lahir dari rahim rakyat kecil, LBH RODAS merasakan langsung kegelisahan warga.
“Kami menerima banyak laporan dari masyarakat. Keluhannya sama, Pak, kami sesak. Banyak ibu-ibu yang mengeluh anaknya batuk tak kunjung sembuh, para petani karet mengeluh hasil sadapannya menurun karena tidak bisa beraktivitas pagi, para pedagang mengeluh jualannya sepi,” ungkap Tim Advokasi LBH RODAS.
LBH RODAS mencatat, dampak kabut asap ini tidak hanya soal kesehatan fisik, tapi juga psikologis dan ekonomi. Anak-anak yang seharusnya bisa bermain bebas di halaman, kini harus dikurung di dalam rumah. Para lansia yang seharusnya bisa duduk santai menikmati pagi di teras rumah, kini harus memakai masker di dalam rumahnya sendiri. Ini adalah penderitaan yang tidak terlihat di berita, tapi nyata dirasakan di dapur-dapur warga Ujung Batu.
“Yang paling menyakitkan adalah ketika udara pagi yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara untuk dihirup secara gratis dan bersih, hari ini justru sudah tercemar. Udara pagi yang biasanya begitu segar dan asri, pada hari ini sudah dicemari asap. Ini ironi,” lanjutnya.
Pertanyaan besar yang kini menggantung di langit Rokan Hulu yang berasap adalah, sampai kapan?
LBH RODAS tidak ingin terjebak dalam saling menyalahkan. Tidak ingin menunjuk siapa yang membakar. Yang ingin disampaikan LBH RODAS hari ini adalah sebuah rintihan, sebuah harapan agar negara hadir.
Bagi warga Ujung Batu, kehadiran pemerintah saat ini sangat dinantikan. Bukan dalam bentuk spanduk atau himbauan, tapi dalam bentuk tindakan nyata. Pembagian masker gratis dari pintu ke pintu, pemeriksaan kesehatan gratis bagi balita dan lansia, penyuluhan tentang bahaya ISPA, dan yang paling penting, kepastian bahwa pemerintah sedang bekerja keras memadamkan sumber api agar asap ini tidak terus berlarut-larut.
Rokan Hulu adalah negeri yang kaya, negeri seribu suluk. Jangan biarkan negeri yang indah ini terus diselimuti asap. Jangan biarkan anak-anak Rokan Hulu tumbuh dengan kenangan bahwa masa kecil mereka adalah masa kecil yang sesak napas.
LBH RODAS, bersama seluruh masyarakat Ujung Batu, menanti dengan penuh harap. Menanti langit biru itu kembali. Menanti udara segar itu kembali. Menanti pagi yang asri itu kembali.
Karena bagi kami, bisa bernapas lega di pagi hari adalah kebahagiaan yang paling sederhana, namun hari ini terasa begitu mahal.
Penulis : Ari Wibowo



















