ROKAN IV KOTO, beninginfo.com – Jika sebuah film punya poster, maka poster untuk Desa Lubuk Bendahara Kecamatan Rokan IV Koto mungkin seperti ini. Gambar seorang pria berbaju Melayu kuning emas, berpeci hitam, berdiri tegak dengan latar kampung yang diterangi lampu-lampu temaram di atas air. Di atasnya tertulis: THE GOLDEN HEART – HONOR WEARS GOLD, ONE MAN STANDS FOR HIS VILLAGE.
Bagi banyak orang luar, Lubuk Bendahara mungkin hanya titik di peta perbatasan Rohul-Sumbar. Desa yang dikelilingi Hutan Lindung Bukit Suligi, dengan jalan berliku dan sungai yang masih jernih. Tapi bagi Indra Ramos, Lubuk Bendahara adalah rumah, adalah nadi, adalah kehormatan yang harus dijaga.
“Saya lahir dan besar di sini. Kalau bukan kita yang jaga kampung kita, siapa lagi?” kata Indra Ramos, Ketua LBH Rokan Darussalam (Rodas) itu dengan logat Melayunya yang kental.
Nama Indra Ramos belakangan dikenal vokal menyoroti isu-isu di Rokan Hulu. Dari bangku penonton desa yang retak senilai Rp98 juta di Rambah Tengah Barat, hingga maraknya kebun sawit di dalam kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi yang diduga dibiarkan.
Ia paham betul, jalan yang setiap hari dilalui aparat dari Polsek Rokan IV Koto itu, kanan kirinya adalah hutan lindung. Tapi kini, satu per satu berubah menjadi kebun sawit. Ada yang sudah berbuah, ada yang baru ditanam. Bahkan ada bangunan yang berdiri di dalam kawasan.
“Ini bukan soal benci. Ini soal Hati Emas. Kalau kita diam, hutan kita habis. Kalau hutan habis, banjir, longsor, anak cucu kita yang susah. Itu yang ada di Lubuk Bendahara,” ujarnya.
Bagi Indra, kehormatan atau Honor itu bukan pin emas di dada. Kehormatan adalah ketika kamu berani berdiri sendirian untuk desamu, meski resikonya tidak disukai.
Warga Lubuk Bendahara mengenal Indra bukan sebagai orang yang suka berteriak di jalan. Ia lebih banyak mendengarkan.
Di warung kopi, di surau, di tepi sungai, ia duduk bersama petani, pemuda, dan ninik mamak. Ia mencatat. Ia mengadvokasi. Melalui LBH Rodas, ia memberikan bantuan hukum gratis bagi warga Lubuk Bendahara dan Rokan IV Koto yang tersandung masalah.
“LBH Rodas ini saya dirikan untuk kampung saya dulu. Baru untuk Rohul. Prinsip saya jelas, kita dukung program pemerintah yang baik. Tapi kalau melenceng, wajib kita ingatkan. Itu bentuk cinta kita pada kampung,” tegasnya.
Seperti filosofi poster The Golden Heart itu. Satu pria berdiri untuk desanya.
Di tengah hiruk pikuk politik kuning, Indra tetap memilih warna kuning emasnya dengan cara berbeda. Bukan kuning kekuasaan, tapi kuning kehormatan. Kuning yang lahir dari keberanian menjaga hutan, menjaga uang rakyat, dan menjaga marwah Melayu Rokan IV Koto.
Dari Lubuk Bendahara, ia membuktikan satu hal: Untuk membuat perubahan, kamu tidak perlu menunggu menjadi pejabat. Cukup punya Hati Emas dan berani berdiri.Dan Indra Ramos sudah memulainya.***(Ari Wibowo)

















