Momentum HUT ke-81 Pasaman: Potensi Perantau Membangun Kampung

Foto. Dr Zulfikri Toguan SH MH MM , Ketua Umum Ikatan Keluarga Pasaman dan Pasaman Barat Riau (IKP-PBR)

MEMPERINGATI Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kabupaten Pasaman  8 Oktober 2026, bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang perjalanan sejarah daerah.

Lebih dari itu, HUT Pasaman hendaknya menjadi ruang refleksi sekaligus momentum untuk melihat kembali kekuatan yang dimiliki daerah dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan.

Satu potensi besar Pasaman yang sering kali belum dikapitalisasi secara optimal adalah kekuatan perantau.

Pasaman memiliki masyarakat yang tersebar di berbagai daerah, bahkan sampai luar negeri. Banyak putra-putri Pasaman yang berhasil membangun kehidupan dan usaha di Pekanbaru, Jakarta, Batam, Malaysia, dan berbagai daerah lainnya. Mereka bekerja sebagai pengusaha, profesional, akademisi, pedagang, birokrat, pekerja industri, maupun pelaku usaha lainnya.

Mereka adalah aset sosial dan ekonomi Pasaman.

Persoalannya, bagaimana potensi tersebut dapat dihubungkan secara produktif dengan pembangunan kampung halaman?

Marantau: Tradisi yang Mengandung Etos Pembangunan

Dalam kebudayaan Minangkabau dikenal filosofi “marantau”. Merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman. Merantau adalah proses belajar, mencari pengalaman, membangun jaringan, meningkatkan kemampuan, sekaligus membuktikan kemandirian.

Ada ungkapan yang sangat relevan untuk pembangunan Pasaman:

“Marantau dahulu, mencari ilmu dan pengalaman; apabila telah berhasil, pulanglah membawa manfaat untuk kampung halaman.”

Filosofi ini sesungguhnya mengandung konsep pembangunan yang luar biasa.

Seorang anak muda meninggalkan kampung bukan berarti memutus hubungan dengan nagari. Sebaliknya, rantau dapat menjadi tempat memperoleh modal, pengetahuan, teknologi, jaringan usaha, dan pengalaman yang kelak dibawa pulang untuk memperkuat kampung halaman.

Karena itu, keberhasilan perantau Pasaman seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa besar rumah yang dibangun di kampung atau berapa banyak kendaraan yang dibawa pulang ketika hari raya. Ukuran keberhasilan yang lebih luas adalah seberapa besar manfaat yang dapat dikembalikan kepada masyarakat dan daerah asal.

PAD Rendah, Tetapi Potensi Ekonomi Besar

Pasaman menghadapi persoalan klasik pembangunan daerah, yaitu keterbatasan kemampuan fiskal daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang relatif rendah menyebabkan ruang fiskal pemerintah daerah untuk membiayai berbagai program pembangunan menjadi terbatas.

Namun, keterbatasan PAD tidak berarti Pasaman miskin potensi.

Pasaman memiliki tanah yang subur, sektor pertanian yang kuat, sumber daya manusia, budaya yang hidup, serta jaringan perantau yang luas.

Dengan demikian, tantangan utama bukan semata-mata kekurangan sumber daya, melainkan bagaimana menghubungkan berbagai sumber daya tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif.

Di sinilah perantau dapat memainkan peran strategis.

Jika pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran, sementara perantau memiliki modal, pengalaman, jaringan dan keberanian berusaha, maka keduanya dapat dipertemukan dalam sebuah ekosistem investasi kampung halaman.

Pemerintah menyediakan regulasi, kemudahan perizinan, data potensi, infrastruktur dan kepastian hukum. Perantau menyediakan modal, jaringan pemasaran, teknologi, pengalaman manajemen dan akses pasar.

Masyarakat lokal menyediakan sumber daya, tenaga kerja, lahan, pengetahuan lokal dan semangat kewirausahaan.

Inilah kolaborasi yang seharusnya dibangun.

Dari “Pulang Basamo” Menuju “Investasi Basamo”

Selama ini istilah pulang basamo sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Tradisi tersebut memperlihatkan kuatnya ikatan emosional antara perantau dengan kampung halaman.

Ke depan, semangat pulang basamo dapat dikembangkan menjadi “investasi basamo.”

Perantau tidak harus pulang dan tinggal selamanya di Pasaman. Mereka dapat tetap berdomisili di Pekanbaru, Jakarta, Batam, Malaysia atau kota lainnya, tetapi mempunyai keterikatan ekonomi dengan kampung halaman.

Misalnya, perantau Pasaman dapat membangun investasi bersama dalam sektor:

pertanian dan perkebunan;

pengolahan hasil pertanian;

peternakan dan perikanan;

pariwisata berbasis alam dan budaya;

industri makanan dan produk halal;

UMKM dan ekonomi kreatif;

perdagangan digital;

pergudangan dan distribusi;

serta agroindustri berbasis komoditas unggulan Pasaman.

Pasaman tidak cukup hanya menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru berada pada proses pengolahan, pengemasan, pemasaran dan distribusi.

Bayangkan apabila hasil pertanian Pasaman diolah oleh perusahaan milik atau hasil kolaborasi perantau Pasaman sendiri. Produk tersebut kemudian dipasarkan ke Pekanbaru, Batam, Jakarta bahkan Malaysia.

Dengan demikian, rantai nilai ekonomi tidak seluruhnya keluar dari Pasaman.

Pemerintah Daerah Sebagai “Jembatan” Perantau dan Kampung

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, diperlukan peran aktif Pemerintah Kabupaten Pasaman.

Pemerintah daerah tidak harus menjadi investor utama. Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator, regulator dan penghubung.

Misalnya, Pemerintah Kabupaten Pasaman dapat membangun sebuah “Pasaman Investment and Diaspora Center”, yaitu pusat informasi dan fasilitasi investasi bagi perantau.

Pusat tersebut menyediakan informasi mengenai tanah yang tersedia untuk kegiatan produktif, komoditas unggulan, peluang usaha, data UMKM, kebutuhan infrastruktur, potensi pariwisata, serta proyek-proyek investasi yang layak.

Perantau tidak lagi harus mencari sendiri informasi mengenai peluang usaha di kampung halaman.

Pemerintah daerah dapat menyediakan satu pintu informasi investasi perantau, sekaligus memastikan transparansi, kepastian hukum dan pendampingan.

Dengan cara ini, hubungan pemerintah dengan perantau bukan hanya bersifat seremonial ketika acara halal bihalal atau pulang basamo, tetapi berubah menjadi hubungan pembangunan yang berkelanjutan.

Membentuk “Forum Saudagar Pasaman”

Gagasan lain yang dapat dipertimbangkan adalah membentuk Forum Saudagar Pasaman yang beranggotakan pengusaha dan profesional asal Pasaman di Pekanbaru, Jakarta, Batam, Malaysia dan daerah lainnya.

Forum ini bukan sekadar organisasi silaturahmi, tetapi menjadi jejaring bisnis dan investasi.

Pertemuan tahunan dapat dikemas dalam bentuk Pasaman Investment Forum, di mana pemerintah daerah mempresentasikan potensi dan proyek prioritas, sementara para perantau dapat menawarkan modal, teknologi, jaringan dan kemitraan. Dari sinilah dapat lahir investasi konkret.

Anak Muda Pasaman Jangan Hanya Pencari Kerja

Pembangunan Pasaman juga harus diarahkan agar generasi mudanya tidak hanya bercita-cita menjadi pekerja di luar daerah.

Mereka harus didorong menjadi pencipta lapangan kerja.

Pengalaman perantau dapat menjadi mentor bagi generasi muda Pasaman. Pengusaha Pasaman di rantau dapat memberikan pelatihan kewirausahaan, digital marketing, manajemen usaha dan akses pasar.

Dengan demikian terbentuk siklus:

Merantau ? belajar ? berhasil ? berjejaring ? berinvestasi ? membuka lapangan kerja ? membangun kampung.

Inilah hakikat merantau dalam konteks pembangunan modern.

HUT ke-81 Pasaman: Momentum Membuka Babak Baru

Pada usia ke-81, Pasaman membutuhkan paradigma baru pembangunan. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. APBD mempunyai keterbatasan. Karena itu, diperlukan kekuatan sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk para perantau.

Kita perlu mengubah cara pandang. Perantau bukan sekadar orang yang meninggalkan kampung. Perantau adalah bagian dari modal pembangunan daerah.

Modal tersebut bukan hanya berupa uang. Ada modal sosial, modal intelektual, modal jaringan, modal pengalaman dan modal reputasi.

Karena itu, dalam momentum HUT ke-81 Pasaman, mari kita hidupkan kembali semangat budaya Minangkabau:

“Marantau dahulu sebelum berguna; apabila telah berguna, pulanglah membawa manfaat untuk kampung halaman.”

Pulang tidak selalu berarti menetap.

Pulang dapat berarti membangun usaha, menanam modal, membuka lapangan pekerjaan, mentransfer ilmu, membangun jaringan pasar, membantu UMKM, mendukung pendidikan, dan menghadirkan teknologi di kampung halaman.

Pasaman memiliki tanah yang subur. Pasaman memiliki masyarakat yang ulet. Pasaman memiliki budaya yang kuat. Dan Pasaman memiliki perantau yang tersebar di berbagai pusat ekonomi.

Yang dibutuhkan sekarang adalah jembatan yang menghubungkan seluruh potensi tersebut.

Pemerintah Kabupaten Pasaman dapat menjadi jembatan itu.

Perantau dapat menjadi kekuatan ekonominya.

Masyarakat kampung menjadi pelaku utamanya.

Dan seluruhnya bergerak dalam satu tujuan: menjadikan Pasaman bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi tempat untuk membangun masa depan.

Selamat HUT ke-81 Kabupaten Pasaman.

Dari rantau kita belajar. Dari kampung kita memperoleh jati diri.

Dan untuk kampung halaman, kita kembali memberi arti.

Pekanbaru, 3 Oktober 2026.

Penulis : Dr Zulfikri Toguan SH MH MM