185 Petani Sawit dari Empat Kabupaten di Riau Ikuti Pelatihan Panen dan Pascapanen, Tingkatkan Produktivitas dan Kualitas Hasil Kebun

Pekanbaru, Beninginfo.com – Sebanyak 185 petani kelapa sawit dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Bengkalis, Indragiri Hilir (Inhil), dan Rokan Hilir (Rohil) mengikuti pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit yang diselenggarakan oleh Best Planter Indonesia (BPI) di Hotel Furaya Pekanbaru, pada 22–26 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia perkebunan sawit rakyat.

Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kuansing Andri Yama Putra, S.Hut, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Rokan Hilir Cicik Mawardi Athar, AP, M.Si, perwakilan Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis dan Indragiri Hilir, Direktur Best Planter Indonesia Heri Dwi Basuki, serta seluruh peserta pelatihan.

Direktur Best Planter Indonesia, Heri Dwi Basuki, mengatakan bahwa pelatihan ini dibagi ke dalam enam kelas pembelajaran dengan fokus utama pada aspek panen dan pascapanen kelapa sawit. Menurutnya, panen merupakan ujung tombak dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya sawit.

“Mulai dari pembibitan, pengolahan lahan, hingga perawatan tanaman belum menghasilkan (TBM), semuanya akan sia-sia jika proses panennya tidak dilakukan dengan baik. Masih banyak ditemukan buah restan dan buah tertinggal di lapangan yang berdampak pada penurunan kualitas dan produktivitas hasil kebun,” ujarnya usai pembukaan acara.

Heri menegaskan, pelatihan ini sangat strategis karena menghadirkan para praktisi berpengalaman yang akan berbagi pengetahuan dan solusi praktis kepada para pekebun terkait teknik panen yang efektif dan efisien.

Dalam kesempatan tersebut, Heri juga menitipkan tiga pesan penting kepada para petani sawit. Pertama, pentingnya pemupukan yang tepat karena memiliki hubungan langsung dengan tingkat produksi kebun. Ia mengingatkan agar anggaran pemupukan tidak kalah prioritas dibandingkan kebutuhan konsumtif lainnya.

Kedua, petani perlu melakukan efisiensi penggunaan pupuk melalui perbaikan kondisi tanah. Menurutnya, pemanfaatan bahan organik seperti pelepah sawit dan janjang kosong yang dikembalikan ke kebun dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi kebutuhan pupuk kimia.
“Penghematan yang tidak terlihat justru sering memberikan dampak besar. Jika kandungan bahan organik tanah mencukupi, maka tanah menjadi lebih subur dan kebutuhan pupuk dapat ditekan,” jelasnya.

Ketiga, Heri menekankan pentingnya infrastruktur kebun, terutama akses jalan produksi. Infrastruktur yang baik akan memudahkan proses pengangkutan hasil panen dari kebun menuju tempat pengumpulan hingga ke pabrik pengolahan.

“Hasil kebun harus bisa keluar dengan lancar agar segera menjadi nilai ekonomi bagi petani. Karena itu, jalan kebun dan sarana angkut harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para petani sawit dari empat kabupaten di Riau mampu meningkatkan keterampilan panen dan pascapanen sehingga produktivitas, kualitas hasil, serta pendapatan pekebun sawit rakyat dapat terus meningkat. (Rilis)