Hukum Bukan hanya Hafalan: Calon Advokat Harus Cerdas Teori, Cerdik di Lapangan

Pekan Baru ,beninginfo.com — Dunia peradilan Indonesia yang brutal tidak butuh robot penghafal undang-undang, melainkan petarung hukum yang taktis. Kritik keras ini dilayangkan Agung Syaiful Bahri Minggu (21/6/2026 ), generasi baru calon advokat yang jengah dengan sistem pendidikan hukum normatif yang hanya memproduksi “sarjana kertas” kaya teori, namun cacat mental di lapangan.

 

Hukum hari ini kerap direduksi menjadi sekadar kompetisi hafalan pasal. Akibatnya, banyak advokat muda yang lulus dengan predikat memukau, namun langsung gagap dan gemetar saat menghadapi realitas persidangan yang penuh intrik dan konflik kepentingan.

 

Seorang calon advokat menegaskan posisi generasinya dengan sangat menohok:

 

“Menghafal seratus pasal tidak ada gunanya jika Anda lumpuh saat harus mematahkan kesaksian palsu di bawah sumpah. Dunia nyata tidak berjalan di atas kertas ujian pilihan ganda. Di ruang sidang, Anda bertarung dengan ego manusia, kelihaian jaksa, dan subjektivitas hakim. Jika tidak cerdik membaca situasi lapangan, teori Anda hanya akan menjadi rongsokan akademis.” Ujar Agung Syaiful Bahri, S.H

 

Menjadi cerdik di lapangan bukan berarti bergabung dengan mafia peradilan, melainkan memiliki ketajaman insting dalam mengesekusi strategi.

 

Profesi advokat adalah officium nobile (profesi yang terhormat). Kehormatan itu tidak datang dari kemampuan mendiktekan isi undang-undang, melainkan dari ketajaman analisis untuk memenangkan keadilan di lapangan yang berlumpur.

 

“Jika hanya ingin menghafal, jadilah kamus berjalan. Namun jika ingin menjadi penegak keadilan, calon advokat wajib menguasai teori, dan jauh lebih cerdik menguasai lapangan”. Ujar Agung Syaiful Bahri, S.H

 

LBH Rokan Darussalam lewat suara Agung Syaiful Bahri, S.H. ingin mencetak advokat yang lengkap. Cerdas otaknya untuk membedah pasal. Cerdik nalurinya untuk membedah situasi. Tegas sikapnya di ruang sidang. Manusiawi hatinya di luar sidang.

 

Karena advokat sejati bukan lahir dari ruang kuliah. Advokat sejati lahir dari lumpur lapangan, dari keringat mendampingi rakyat, dari nyali untuk melawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan.(Ari Wibowo )