Rambah Samo,beninginfo.com –Jam 11.00 WIB, matahari Rambah Samo lagi ganas-ganasnya. Tapi di Dusun Bukit Rindang, RT 06 RW 02 Desa Marga Mulya, ada sekelompok orang berseragam yang rela basah keringat. (22/6/ 2026), Jam 11.00 WIB
Mereka bukan lagi aparat yang berdiri di pos atau duduk di balik meja. Hari itu, mereka berubah jadi “petani bersenjata” senjata mereka bukan pistol, tapi data, catatan, dan kepedulian.
Itulah potret kunjungan Tenaga Ahli Karo SDM Polda Riau bersama jajaran Polsek Rambah Samo ke ladang jagung ketahanan pangan. Bukan kunjungan seremonial 5 menit foto-foto. Ini kunjungan bedah habis, cek titik, itung daun.
“Kami Nggak Mau Program Ini Cuma Jadi Tulisan” .Yang mimpin langsung Staf Khusus Karo SDM Polda Riau, Bapak Khusnul Mubarok, S.P., M.B.A. Turun dari mobil, sepatu dinas langsung diganti. Nggak ada gengsi. Nggak ada jarak.
Di sampingnya, Kanit Binmas IPDA Zulpendi, S.Pd.i yang mewakili Kapolsek Rambah Samo. Dua Bintara Kompetensi Khusus Polda Riau, Bripda Ardiansyah Harahap, S.P dan Bripda M. Putra Aulia, S.Pt, bawa buku catatan kayak mahasiswa KKN. Bhabinkamtibmas Aipda Gondo Wahyu Utomo, S.H. yang tiap hari paling paham seluk-beluk desa, jadi pemandu lapangan.
Begitu sampai, mereka langsung disambut Direktur BUMDesa Mitra Usaha Mulya Bapak Suryana, S.E dan Ketua Unit Ketahanan Pangan Bapak Sukino. Nggak ada sambutan pidato panjang. Yang ada cuma jabat tangan, terus langsung jalan ke barisan jagung.
Pesan Khusnul Mubarok jelas sejak langkah pertama,“Ketahanan pangan itu nggak bisa dicek dari ruang AC. Harus lihat langsung daunnya, pegang langsung tanahnya. Kami nggak mau program ini cuma jadi tulisan laporan. Harus jadi jagung yang beneran bisa dipanen rakyat.
Detik-Detik bedah Jagung di Tengah lahan 2 hektar, Lahan seluas ±2 hektar ini sejarahnya panjang. Ditanam 15 Mei 2026 pakai varietas unggul Pioner 32 Singa. Pas dicek 22 Juni, umur tanaman pas 38 hari.
38 hari itu masa genting, masa transisi dari pertumbuhan ke pembuahan. Salah rawat sedikit, hasil bisa anjlok. Makanya polisi nggak main-main.
Satu-satu dicek:
1. Jenis lahan: Mineral tanah hitam. Subur. Nggak gampang retak walau panas.
2. Sumber air: Murni tadah hujan. Nggak ngandelin irigasi. Bukti bahwa warga + Polri bisa adaptasi sama alam.
3. Kondisi tanaman: Daun hijau, batang kokoh, nggak ada hama ganas. Laporan lapangan singkat tapi nendang: Kondisi tanaman jagung secara umum normal. Tumbuh subur, siap panen.
IPDA Zulpendi yang mewakili Kapolsek Rambah Samo nambahin, ni lahan kelola Polsek Rambah Samo langsung. Jadi kalau ada yang tanya ‘beneran digarap apa nggak?’, jawabannya ada di depan mata. Ini bukan program titipan. Ini keringat kami sendiri.
Dari Jaga Kamtibmas, Sekarang Jaga Perut Rakyat, Yang bikin kunjungan ini beda anglenya. Dulu kalau dengar “Polisi + Desa bayangannya pasti razia, patroli, atau sosialisasi kamtibmas.
Hari ini bayangannya berubah, polisi jongkok di pematang, nyentuh daun jagung, nanya ke warga “pupuknya cukup nggak Pak ??
Bripda Ardiansyah Harahap, S.P yang basicnya sarjana pertanian bilang pelan sambil ngelap keringat.
“Ilmu yang saya pelajari di kampus, ternyata kepake di sini. Ngurus jagung nggak beda jauh ngurus masyarakat. Sama-sama butuh sabar, teliti, dan nggak boleh setengah-setengah.”ucapnya singkat.
Dan benar. Ketahanan pangan itu persis kayak ketahanan keamanan. Kalau lengah sedetik, bisa berantakan.
Pesan Terakhir dari Tengah Sawah, Sore itu sebelum pulang, Bapak Sukino selaku Ketua Unit Ketahanan Pangan Desa Marga Mulya narik napas lega mengatakan.
“Kami senang didatangi langsung dari Polda. Artinya negara nggak lupa sama kami yang di kampung. Jagung ini bukan cuma jagung. Ini harapan kami buat dapur tetap ngebul walau harga naik.” ungkap sukino.
Nah, di titik itulah semua capek hilang. Kunjungan ini ngajarin satu hal penting: ketahanan pangan itu bukan slogan di spanduk. Ketahanan pangan itu lumpur yang nempel di sepatu, keringat yang netes ke tanah, dan keyakinan bahwa kerja kecil hari ini nyelametin perut rakyat besok.
Saat harga pangan dunia naik-turun, saat cuaca makin nggak bisa ditebak, 2 hektar jagung di Marga Mulya ini
jadi bukti. Bukti bahwa Polri hadir 360 derajat. Dari jaga keamanan sampai jaga lumbung pangan.
Karena logikanya sederhana, Perut rakyat aman → kepala dingin → negara tenang.***(Ari Wibowo )

















