PEKANBARU, BENINGINFO.COM – Sebanyak 185 petani kelapa sawit yang berasal dari 15 kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit yang diselenggarakan oleh Best Planter Indonesia (BPI), Selasa (9/6/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama sepekan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani sawit agar mampu mengelola perkebunan secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Best Planter Indonesia (BPI) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultan, pelatihan, dan edukasi perkebunan kelapa sawit yang berkantor pusat di Jakarta. Program pelatihan ini mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) serta Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian RI.
Ke depan, program serupa direncanakan akan diikuti petani dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Riau secara bertahap. Untuk tahap pertama, peserta berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi.
Acara pembukaan dihadiri perwakilan Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kuansing Andri Yama Putra, S.Hut., M.Si., Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kuansing Raja Rafli, S.SP., Direktur Utama BPI Ir. Heri Bibasuki, MM., beserta jajaran dan para peserta pelatihan.
Direktur Utama BPI, Ir. Heri Bibasuki, MM., mengatakan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, serta berbagi pengalaman dari para narasumber yang merupakan praktisi perkebunan sawit berpengalaman antara 15 hingga 20 tahun.
“Melalui pelatihan ini kami ingin memberikan wawasan dan pengalaman kepada para petani. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah penggunaan bibit palsu yang masih banyak beredar. Kesalahan dalam memilih bibit akan berdampak langsung terhadap produktivitas kebun dan merugikan petani dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurut Heri, investasi awal melalui penggunaan bibit unggul merupakan faktor utama keberhasilan usaha perkebunan sawit. Ia mengibaratkan kebun sawit sebagai investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan selama 20 hingga 30 tahun.
“Jangan sampai salah dalam memilih bibit. Dengan dukungan bibit unggul dan edukasi yang tepat, petani akan memperoleh hasil yang optimal di masa mendatang,” tambahnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi lengkap mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, pemeliharaan tanaman, pemupukan, panen, hingga penanganan pascapanen. Selain pembelajaran di kelas, peserta juga dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke perkebunan PT Minamas Plantation di Kabupaten Kampar.
Melalui kegiatan tersebut, para petani diharapkan dapat melihat secara langsung penerapan teknologi dan manajemen perkebunan modern yang diterapkan perusahaan besar, sehingga dapat menjadi inspirasi untuk diterapkan di kebun masing-masing.
Heri optimistis sektor perkebunan sawit di Kuantan Singingi memiliki prospek yang sangat baik. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani agar mampu menerapkan praktik budidaya yang benar.
“Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, produktivitas kebun masyarakat meningkat. Petani harus memperhatikan kualitas bibit, kecukupan populasi tanaman, pemupukan yang tepat, serta mewaspadai serangan penyakit Ganoderma yang dikenal sebagai silent killer pada tanaman kelapa sawit,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir petani-petani sawit yang lebih profesional, mandiri, dan mampu meningkatkan produktivitas kebun guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah serta kesejahteraan masyarakat perkebunan di Riau.****Jondri. A

















