Meningkatkan Ketaqwaan dan Mempertahankan Kesucian

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. 

Puji syukur hanya milik Allah Swt yang senantiasa melimpahkan rahmat, nikmat dan berkah-Nya kepada kita semua.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah buat junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW, yang telah amat berjasa diutus Allah Swt untuk melakukan aneka perubahan dan peningkatan kepada yang lebih baik, agar umat manusia menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak.

Setelah kemarin sore mentari tenggelam di ufuk barat, memisahkan kita bertemu dengan bulan suci Ramadhan penuh keberkahan, ampunan dan keistimewaan, yang mengharukan dan selalu dirindukan.

Selama bulan suci Ramadhan kita umat Islam diberikan kesempatan emas untuk melakukan berbagai amal kebaikan dan amal ibadah lainnya. Memperbaiki tingkah laku, menyucikan diri, taqarrub kepada Allah, melakukan berbagai rangkaian ibadah kepada Allah Swt.

Dengan melakukan ibadah mahdhah, seperti mendirikan shalat, berpuasa, menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya.

Sedangkan ghairu mahdhah, adalah ibadah secara umum, yaitu segala apa yang diupayakan, dalam setiap gerak gerik dan aktivitas kita bisa bernilai ibadah di sisi Allah Swt, dengan nawaitu lillaahi ta’alaa. Semua aktivitas itu akan bisa bernilai ibadah, jika dilakukan dengan sebaik mungkin, sesuai dengan ketentuan, regulasi yang disepakati dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

Kemudian sebagai titik tuju, sasaran akhir dari melakukan aktivitas itu, adalah dalam rangka mencari keridhaan Allah Swt.
Pada siang hari kita melaksanakan puasa, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Alhamdulillah, telah kita upayakan dengan sungguh-sungguh, dalam mengendalikan hawa nafsu, mengarahkan kehendak, kemauan agar bernilai dan menjadi amal kebaikan.

Berkat pelaksanaan ibadah puasa, kita telah dididik, dibimbing, dibina untuk mampu menahan, mengendalikan, mengarahkan gejolak hawa nafsu kepada kegiatan, aktivitas dan rangkaian amal kebaikan yang bermanfaat bagi diri kita, orang lain dan diridhai Allah Swt.

Ibadah puasa yang kita lakukan bukan sekedar menahan haus dan menanggung rasa lapar saja.

Tetapi kita berupaya maksimal dalam mengendalikan jiwa raga, mempuasakan, mengendalikan seluruh anggota badan, dari segala hal yang membatalkan nilai ibadah puasa.

Selama bulan suci Ramadhan mata dipuasakan, dikendalikan agar banyak melihat yang baik-baik, menjauhi melihat segala bentuk yang dilarang oleh Allah Swt.
Kita dilatih untuk banyak membaca dan mentadabbur Al-Quran, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan tidak menonton tayangan yang tidak mendidik dan minim nilai kebaikannya.

Telinga kita arahkan untuk selalu mendengarkan ayat-ayat Al-Quran, mendengarkan ceramah agama, taushiyah yang akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Kaki kita kendalikan, tidak akan pernah kita langkahkan ke tempat maksiat. Akan tetapi, kaki dilatih untuk mendatangi rumah ibadah, masjid dan mushalla untuk shalat berjamaah, mendengarkan pengajian dan taushiyah.

Tegasnya kita tidak akan mengunjungi tempat yang akan merusak nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Kedua tangan, kita biasakan untuk melakukan berbagai macam amal kebaikan. Seperti memberikan bantuan, pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Di samping itu, tangan pun kita kendalikan untuk tidak pernah mengambil yang bukan milik kita.

Bahkan, otak, pemikiran pun kita kendalikan, agar tidak pernah melahirkan gagasan, konsep dan inovasi yang akan

mendatangkan berbagai kerusakan. Apakah kerusakan, yang akan merugikan diri sendiri, masyarakat, lingkungan dan perbuatan yang dilaknat oleh Allah Swt.

Hati pun kita kendalikan, kita bersihkan dari segala penyakit rohani, hasad, iri hati, dengki, su-uzhzhan, negatif thinking, egois, sombong, menolak kebenaran serta menganggap enteng orang lain.

Bagaimana pun juga apa yang kita lakukan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. Kita tidak akan bisa mengelak, lari dari tanggung jawab.
Seperti dijelaskan oleh Allah Swt :

” Wa laa taqfu maa laisa laka bihii ‘ilmun, innas sam’a wal bashara wal fu-aada kullu ulaaika kaana ‘anhu mas-uulaa “.

Artinya : ” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya “. ( Q.S.17.36 ).

Insya Allah, berkat pelaksanaan ibadah puasa dan rangkaian amal ibadah lainnya di bulan suci Ramadhan, menjadikan kita sebagai hamba Allah yang bertaqwa.
Sesuai dengan tujuan berpuasa dalam surah Al-Baqarah ayat 183 :

” Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquuna “.

Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang yang

ada sebelum kamu agar kamu bertaqwa “.
( Q.S.2.183 ).

Berkat rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan, hari ini kita telah berhak menyandang titel muttaqin, orang yang bertaqwa, yang merupakan predikat terbaik yang sangat dicita-citakan oleh setiap muslim beriman.

Meski pun gelar muttaqin, orang yang bertaqwa telah diraih, bukan berarti perjuangan telah selesai. Akan tetapi, tugas dan tanggung jawab sebagai orang bertaqwa, belum berakhir sampai di sini. Karena ketaqwaan yang telah didapatkan, berkat perjuangan sebulan Ramadhan, belum menjamin untuk bisa dipertahankan pasca bulan suci Ramadhan. Karena ketaqwaan itu bukanlah berlaku sesaat, akan tetapi diupayakan sepanjang hayat.

Justeru itu, perjuangan keras harus terus dilanjutkan. Semua latihan, pembinaan keimanan, kejujuran dan bimbingan aneka ibadah, yang telah diikuti selama bulan Ramadhan, wajib dikembangkan, dijadikan sebagai pakaian harian bagi umat Islam.

Perlu kita ingatkan bahwa rangkaian amal ibadah selama bulan suci Ramadhan, bukan diperuntukkan di bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, harus dilanjutkan pasca bulan Ramadhan. Kenapa di bulan suci Ramadhan kita mampu menahan haus dan lapar serta menjauhkan diri dari segala hal yang merusak nilai-nilai ibadah puasa.

Bahkan di bulan suci Ramadhan perasaan kita amat dekat dengan Allah Swt dan hubungan kita dengan Allah sangat mesra sekali. Setiap panggilan azan, segera kita penuhi, dengan mendatangi masjid.

Kedekatan kita dengan Allah Swt dapat dibuktikan langsung. Kita tidak mau membatalkan puasa di siang hari, padahal kita mampu melakukannya. Tidak seorang pun yang akan tahu ketika tidak berpuasa. Namun pada saat itu pula kita meyakini Allah Swt, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengawasi segala tindak tanduk kita.
Bahkan, kita berkeyakinan Allah Swt Maha Mengetahui dan Maha Segalanya. Inilah aplikasi, penerapan firman Allah Swt bagi mereka yang betul-betul beriman kepada Allah Swt :

” Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum, wallaahu bimaa ta’maluuna bashiirun “.

Artinya : ” Dan Dia Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ( Q.S.57.4 ).

Dengan kekuatan aqidah tauhid, meyakini keesaan Allah Swt dengan sifatnya yang Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Mendengar dan Maha Segalanya itu.
Kita telah mampu merampungkan rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan. Semoga kita kembali kepada fitrah, mendapatkan kembali kesucian seperti seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya, ” Kayaumi waladathu ummuhu “, begitu kata Rasulullah Muhammad SAW.

” Pasca bulan suci Ramadhan Berhak Bertitel Muttaqin dan Kembali Meraih Kesucian ”

Alangkah bahagianya kita umat Islam pada hari ini, setelah berhasil meraih titel muttaqin, orang yang bertaqwa seperti yang dijanjikan Allah Swt ” La’allakum tattaquuna “. ( Q.S.2.183 )

Kita pun kembali ke jati diri sebagai manusia fitrah, terlepas dari beragam kesalahan, dosa, kekhilafan, semuanya itu akan terkelupas, didelete, dihapus oleh Allah Swt berkat pelaksanaan beragam rangkaian ibadah selama bulan suci Ramadhan.
Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda :

” Man qaama lailatal qadri iimaanan wahtisaaban ghufira lahuu maa taqad- dama mindzanbihi, waman shaama Rama-dhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahuu maa taqaddama mindzanbihi “.

Artinya : ” Barang siapa yang bangun pada lailatul qadr dengan penuh keimanan dan harap pahala dari Allah, dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni.
Barang siapa yang melakukan puasa

dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni “. ( H.R. Imam Bukhari ).

Dalam hadis lainnya Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

” Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban kharaja min dzunuubihi kayaumi waladathu ummuhu “.

Artinya : Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan penuh keimanan dan perhitungan keluar dosa-dosanya seperti hari dilahirkan ibunya “. ( H.R. Bukhari ).

Meski pun kita telah berhak menyandang titel muttaqin, menjadi orang bertaqwa, plus menjadi hamba Allah yang bersih, suci, terlepas dari noda dan dosa, seperti bayi yang baru saja dilahirkan oleh ibunya.

Tetapi kita, jangan pernah merasa puas dengan hasil yang dicapai. Bagaimana pun juga ketaqwaan dan kesucian yang telah diraih, diperoleh dengan susah payah, jangan dibiarkan begitu saja. Atau dengan kata lain kita telah merasa puas dengan perolehan sebagai insan muttaqin dan kembali kepada kesucian.
Bukankah Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan umat Islam, dalam sebuah hadisnya :

” ‘An Abiy Hurairata RA qaala, Qaala Rasulullah SAW : ” jaddiduu iimaanakum qiila Ya Rasuulallaahi wa kaifa najaddiduu iimaananaa? Qaala aktsiruu laa ilaaha illallahu “.

Artinya : ” Dari Abiy Hurairah RA dia berkata, telah bersabda Rasulullah Muhammad SAW :

” Perbaruilah keimanan kamu, lalu ditanyakan Wahai Rasulullah dan bagaimana kami memperbarui iman kami? Dijawab oleh Rasulullah perbanyak mengucapkan ” Laa ilaaha illallahu “.
( H.R. Al-Hakim ).

Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan iman itu, tidak stabil dan tidak tetap. Hal ini pun pasti kita rasakan terjadinya fluktuasi setiap waktu. Turut naik keimanan yang kita miliki itu merupakan sebuah hal yang biasa terjadi dan sunnatullah.

Alhamdulillah, selama bulan suci Ramadhan keimanan kita menanjak grafiknya, karena setiap saat kita melakukan amal ibadah, siang harinya berpuasa, melakukan shalat berjamaah, membaca dan mentadabbur Al-Quran.

Juga membaca buku-buku yang bermanfaat, berbagi rezeki, dengan gemar berinfaq. Sedangkan malamnya kita mendirikan qiyamullail, shalat tarwih, witir, tadarus Al-Quran, mendengarkan ceramah, pengajian, taushiyah yang disampaikan oleh para muballigh yang telah disusun rapi oleh panitia gebyar Ramadhan di berbagai masjid.

Justeru itu, suasana yang kondusif di bulan Ramadhan, jangan sampai berakhir. Akan tetapi harus kita lanjutkan dan kita kembangkan pasca bulan suci Ramadhan.
Jika suasana kondusif di bulan suci Ramadhan, tidak lagi tercipta dalam kehidupan, kita sudah mulai berpaling, tidak lagi menjadi hamba Allah yang taat.
Shalat berjamaah tidak lagi prioritas utama, membaca, mentadabbur Al-Quran sudah diabaikan dan ditinggalkan.

Bahkan tidak lagi gemar melakukan berbagai amal kebaikan untuk diri, keluarga dan masyarakat. Maka pada tibalah saatnya keberadaan keimanan kita berkurang, menyusut dan bisa hilang.
Bagaimana pun keberadaan, eksistensi keimanan akan bertambah dengan banyak melakukan ketaatan kepada Allah dalam pengertian luas.

Sebaliknya keimanan akan drop, menurun kualitasnya, bahkan bisa meredup cahayanya dengan melakukan kemaksiatan dan kemungkaran kepada Allah Swt.
Dalam hal ini Allah Swt menyentil dan mengingatkan kita agar tidak terlena, seperti yang dikiaskan, dianalogikan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Wa laa takuunuu kal latiy naqadhat ghazlahaa min bakdi quwwatin
ankaatsaa “. ( Q.S.16.92 ).

Artinya : ” Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali “. ( Q.S.16.92 ).

Alangkah halus dan menusuknya sentilan Allah Swt dalam mengingatkan hamba-Nya kita umat Islam. Kenapa pasca bulan Ramadhan, kamu melakukan perbuatan yang bodoh, menurutkan hawa nafsu, akal sehat kamu tidak dipergunakan? Selesai shalat kenapa berbuat maksiat, amal kebaikan yang bernilai ibadah, kenapa kalian tukar dengan perbuatan buruk dan penuh keserakahan?

Rangkaian amal ibadah, amalush shalihat, kenapa kamu tukar dengan kemaksiatan? Selama bulan suci Ramadhan kamu asyik membaca, mentadabbur Al-Quran. Bagaimana dengan bulan Syawal, yang

berarti peningkatan, kenapa Al-Quran diabaikan, dilupakan, lebih banyak baca koran, memegang HP dan aneka permainan.
Justeru itulah fungsi ketaqwaan yang telah diraih dan kesucian yang telah didapatkan dipertanyakan?

Padahal setelah berjuang keras selama bulan suci Ramadhan, menaklukkan hawanafsu, mengendalikan jiwa raga untuk menjadi hamba Allah yang beriman, bertaqwa, patuh dan peduli kepada sesama manusia.

Pantaskah nilai- nilai kebaikan yang telah dikantongi, dibiarkan hilang percuma? Ingatlah! Bahwa keimanan, ketaqwaan dan kesucian yang telah diraih akan bisa berkurang, bahkan akan lenyap. Termasuk hidayah dan kasih sayang Allah Swt yang dirasakan akan sirna dalam kehidupan.

Jika kondisi ini dibiarkan, diabaikan, suasana kondusif hanya berlaku di bulan suci Ramadhan saja. Maka percuma dan sia-sialah rangkaian amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan.
Bahkan titel ketaqwaan yang telah diraih dan kembali fitrah, suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Akan hilang dan tenggelam dalam lautan maksiat, pendurhakaan yang dilakukan.

” Upaya Dalam Meningkatkan Ketaqwaan dan Mempertahankan Kesucian “.

Agar ketaqwaan yang telah didapatkan, fitrah dan kesucian yang telah diraih kembali, berkat perjuangan keras sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Kita berharap hasil yang telah diperoleh ini tidak sia-sia dan bisa dikembangkan, dilestarikan dalam semua lini kehidupan.

Maka Allah Swt menegaskan dalam Al-Quran, agar umat Islam melanjutkan trend positif, melakukan rangkaian amal kebaikan setiap saat, bukan bersifat temporal.

” Muniibiina ilaihi wattaquuhu wa aqiimushshalaata wa laa takuunuu minal musyrikiina “.

Artinya : ” Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah “. ( Q.S.30.31 ).

Berdasarkan ayat di atas ada 4 cara yang harus dilakukan, dikembangkan dalam upaya meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan, kejujuran, berprilaku baik dan mencintai kesalehan.

Juga dalam upaya mempertahankan fitrah, kesucian, terjauh dari noda, dosa dan perselisihan.
Inilah beberapa amal kebaikan yang harus kita lakukan pasca bulan suci Ramadhan, sebagai berikut :

1. Dengan terus menerus melakukan pertobatan kepada Allah Swt setiap saat.

2. Selalu bertaqwa kepada Allah setiap waktu, kapan dan di mana pun saja berada.

3. Tetap mendirikan shalat secara berjamaah bersama mereka yang rukuk dan shalat sunnah lainnya.

4. Meninggalkan segala macam perbuatan maksiat, terjauh dari mempersekutukan Allah dengan yang lainnya.

Demikianlah taushiyah di hari nan fitri ini, semoga kita mampu meningkatkan ketaqwaan dan mempertahankan kesucian pasca bulan suci Ramadhan. Kiranya dalam memasuki bulan Syawal, yang berarti peningkatan. Harapan kita selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan kesempatan oleh Allah Swt serta lebih bersemangat dan lebih bergairah, dalam melakukan berbagai aktivitas, kegiatan yang banyak mendatangkan manfaat dan bernilai ibadah di sisi Allah Swt, aamiiin … wallaahu a’lam bishshawaab. ***

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah
Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya. *