Rokan Hulu,beninginfo.com–Panasnya minta ampun matahari Rokan Hulu hari itu nggak main-main. Tapi panas justru nggak dihiraukan. Karena Jumat, 26 Juni 2026 pukul 11.00 WIB, Polsek Rambah Samo memilih turun ke pematang, bukan duduk di balik meja.
Sasaran kali ini: Dusun Aur Kuning, RT 06 RW 03 Desa Teluk Aur, Kec. Rambah Samo. Di sinilah lumpur jadi saksi bisu kerja nyata.
Nggak ada rapat ber-AC. Nggak ada proyektor. Yang ada cuma terik matahari, tanah mineral hitam yang lengket di sepatu, dan hamparan batang jagung setinggi orang dewasa yang menari pelan ditiup angin.
Ini bukan kegiatan seremonial buat foto-foto. Ini pendampingan langsung Polri untuk menyukseskan Program Ketahanan Pangan Presiden RI Bapak Prabowo Subianto. Misi hari itu cuma satu: mengecek nyawa BUMDes Aur Sejahtera yang bernama Jagung Pipil.
Di tengah lahan, berdiri IPDA Zulpendi, S.Pd.I, Kanit Binmas Polsek Rambah Samo. Di sampingnya ada AIPDA Gondo Wahyu Utomo, S.H., Bhabinkamtibmas Desa Teluk Aur. Beliau hafal tiap selokan di Aur Kuning seperti hafal jalan pulang ke rumah. Hadir juga Bapak Zuhairi, Direktur BUMDes Aur Sejahtera, bersama masyarakat Dusun Aur Kuning yang ikut turun, ikut memantau, ikut berdiskusi.
Lahannya seluas ± 1,5 hektare. Tanahnya hitam, gembur, subur. Khas Rambah Samo yang memang jagoan untuk jagung. Tanpa irigasi mahal. Tanpa pompa listrik. Cuma mengandalkan air tadah hujan dari langit. Tapi lihat hasilnya.
Benih Jagung Hibrida Pioneer P32 Singa itu ditanam 3 April 2026. Artinya saat dicek hari Jumat itu, umurnya sudah 84 hari. Tingginya? 150 CM sampai 2 Meter. Batangnya kokoh, nggak ada yang rebah. Daunnya hijau pekat, merata dari ujung ke ujung.
Hasilnya singkat, tapi bikin dada bangga: Tanaman jagung tumbuh cukup baik. Melihat langsung batang jagung yang tegak itu, IPDA Zulpendi berhenti. Ia menatap lahan, lalu bicara di tengah panas.
“Ini bukti Komandan, kita nggak bisa jalan sendiri. Polri hadir bukan cuma jaga Kamtibmas, tapi juga jaga perut rakyat. 1,5 hektare ini milik BUMDes, dirawat warga, kita kawal. Hulu bagus, insyaAllah hilirnya aman. Stok ada, harga stabil. Ingat, ketahanan pangan itu lahirnya dari lumpur, bukan dari slide rapat,” tegasnya.
Dan benar Komandan. Angka 1,5 hektare itu bukan angka mati. Di baliknya ada satu barisan solid. Ada Polri yang mengawal. Ada BUMDes yang mengelola. Ada desa yang mendukung. Ada warga Aur Kuning yang berkeringat.
Mereka nggak cuma teriak swasembada di forum. Mereka menanamnya. Mereka merawatnya. Mereka mengeceknya dengan kaki sendiri di lumpur.
Karena hukum alamnya begitu. Pangan yang kuat nggak lahir di ruang rapat. Pangan yang kuat lahir di pematang. Lahir di antara daun jagung. Lahir di bawah terik Rokan Hulu.***(Ari Wibowo )

















