Pasca Ramadhan Jangan Tukar Amal Kebaikan Dengan Kemaksiatan

Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA

Pasca bulan suci Ramadhan 1447 H yang baru saja berlalu, disambut dengan penuh kegembiraan, antusias dan semangat yang bergelora oleh umat Islam. Karena telah berhasil dengan sukses menunaikan salah satu rukun Islam, yaitu berpuasa dengan segala rangkaian amal ibadah yang mengiringinya.

Selama bulan suci Ramadhan umat Islam, telah melakukan berbagai aktivitas, berupa pembinaan, pelatihan, pendidikan dan pembajaan karakter, kepribadian melalui ibadah puasa, yang sangat bermanfaat sekali dalam menghadapi hidup kehidupan yang semakin komplit, penuh tantangan, ujian dan cobaan yang tidak ada putusnya.

Pelaksanaan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan, bagi umat Islam adalah sebuah wadah yang sangat strategis sekali dalam menanamkan sendi-sendi aqidah, keyakinan kepada Allah Swt. Selama melaksanakan ibadah puasa umat Islam terasa sangat dekat dengan Allah Swt. Seolah-olah setiap gerak geriknya selalu dilihat, dimonitor dan diperhatikan oleh Allah Swt.

Dengan berpuasa seorang muslim mampu bermesraan dengan Allah Swt, dengan melantunkan ayat-ayat Al-Quran, mentadabbur Al-Quran. Berzikir, mengingat Allah dengan melantunkan kalimah thayyibah. ” Astagfirullahal ‘azhiimu wa atuubu ilaihi, subhaanallaahi, wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallahu wallaahu akbar, laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim “. Bahkan lisan dan bibir umat Islam bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW setiap saat
Begitulah nuansa di bulan suci Ramadhan umat Islam asyik, larut dalam menikmati suguhan, hidangan Allah Swt, dengan aneka amal ibadah, shalat berjamaah, gemar berinfaq, suka membantu, peduli terhadap kaum dhu’afa dan hampir setiap sore ada kegiatan pemberian takjil dari berbagai komunitas dan kelompok peduli perbukaan.

Tidak berhenti sampai disini, umat Islam pun diberikan keistimewaan oleh Allah Swt berupa malam Lailatul Qadar. Yaitu malam yang mulia lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana dijelaskan Allah Swt :

” Innaa anzalnaahu fiy lailatil qadri. Wa maa adraaka maa Lailatul qadri. Lailatul qadri khairum min alfi syahrin, tanazzalul malaa-ikatu war ruuhu fiihaa biizni rabbihim min kulli amrin, salaamun hiya hattaa mathla’il fajri “.

Artinya : ” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Al-Quran ) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan

. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh ( Jibril ) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah ( malam itu ) sampai terbit fajar “. ( Q.S. 97.3 – 5 ).

Menurut Rasulullah Muhammad SAW peristiwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu, pada 10 Ramadhan terakhir dan pada malam ganjil, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27 dan malam ke-29.

Untuk menyambut kedatangan malam kemuliaan itu, sebagian umat Islam melakukan i’tikaf di masjid, berdiam diri di masjid dan tidak pulang ke rumah, sampai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Mereka penuh harap mendapatkan Lailatul Qadar.

” Bulan Syawal Bulan Peningkatan Ibadah “.

Alhamdulillah wa syukrulillahi, tahapan demi tahapan selama bulan Ramadhan telah dilalui, segala potensi, daya upaya telah dikerahkan untuk meraih ketaqwaan, mendambakan malam kemuliaan, yang lebih baik dari seribu bulan
Berkisar 83 tahun lebih 3 bulan. Begitu juga harapan untuk mendapatkan kesucian, bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya pun, telah maksimal dilaksanakan.

Tepatnya pada tanggal 1 Syawal 1447 H, umat Islam yang telah melakukan puasa dengan maksimal, menjaga diri dari segala hal yang membatalkan nilai ibadah puasa, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari selama bulan suci Ramadhan. Mereka lakukan rangkaian amal ibadah lainnya yang mengikuti ibadah puasa, baik di siang hari maupun di malam harinya,

dengan berbagai ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Insya Allah, rangkaian amal ibadah yang telah dilakukan dengan penuh keimanan, keikhlasan dengan tujuan mendapatkan keridhaan Allah Swt.

Alhamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1447 H umat Islam berhak menyandang titel muttaqin, orang yang bertaqwa dan kembali mendapat kesucian bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

Suasana pada tanggal 1 Syawal 1447 H, umat Islam pantas sekali merayakan Hari Kemenangan, setelah sebulan penuh mampu menaklukkan hawa nafsu dan mengendalikan keinginan yang tak terbendung, memenej, mengelolanya untuk meraih nilai ibadah di sisi Allah Swt.

Hari kemenangan tersebut tidaklah dirayakan dengan berfoya-foya, berjoget ria dengan menghamburkan harta benda.

Tetapi kemenangan di Hari Raya Idul Fitri, dilampiaskan dengan kegembiraan penuh rasa syukur dengan melantunkan kalimah thayyibah.

Melafazkan takbir ” Allahu Akbar ” sebuah pengakuan hebat hanya Allah saja Yang Maha Agung, Maha Perkasa dan Maha Segalanya. Selain Allah Swt adalah kecil, hanya makhluk ciptaan-Nya belaka.

Lantunan tahlil ” Laa ilaaha illallahu ” menyatakan dengan tegas dan lantang, ” Tidak ada Ilah ( Tuhan ) kecuali Allah “. Hanya Allah saja yang wajib disembah, Allah Swt tempat berlindung dan minta pertolongan dan tempat ketergantungan semua makhluk ciptaan-Nya
Ucapan tahmid ” Alhamdulillah ” sebuah ungkapan tegas, penuh kesyahduan, hanya

Allah Swt saja yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan. Jika Anda dipuji dan disanjung kembalikanlah pujian itu kepada yang berhak menerima pujian adalah Allah Swt dengan ucapan ” Alhamdulillah “.

Lantunan tasbih digemakan bersahutan di angkasa raya, sebagai pertanda hanya Allah Swt saja yang patut disucikan, terjauh dari segala kemaksiatan. Selain Allah Swt adalah makhluk, semua makhluk ciptaan Allah tidak luput dari kesalahan, kekhilafan dan keterbatasan.

Justeru itu, kemenangan yang telah diraih, ketaqwaan yang telah didapatkan dan kesucian diri yang telah didapatkan kembali. Setelah berjuang sebulan penuh melawan godaan setan, rayuan hawanafsu dan keinginan yang tak terbendung, jangan berhenti sampai di akhir bulan Ramadhan.

Akan tetapi, setelah memasuki bulan Syawal yang berarti peningkatan, adalah wadah untuk membuktikan, menaburkan dan mengembangkan amal kebaikan yang telah bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

Sehingga umat Islam memperoleh titel muttaqin, orang yang bertaqwa, kembali kepada fitrah, kesucian dirinya sebagai hamba Allah Swt, terlepas dari aneka kesalahan dan dosa, setelah sukses menunaikan ibadah puasa dan rangkaian amal ibadah lainnya di bulan Ramadhan.

Keberhasilan yang telah diraih berkat rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan, bukan berarti tugas umat Islam berakhir dan selesai. Tugas dan tanggung jawab umat Islam, malah semakin masif, berat dan penuh dengan tantangan. Yaitu bagaimana upaya keras untuk bisa meningkatkan kualitas ketaqwaan dan mempertahankan kesucian

Umat Islam tidak boleh cepat merasa puas, bangga dengan keberhasilan menggondol predikat muttaqin dan kembali kepada fitrah. Sebaliknya jangan sampai umat Islam yang telah berjaya dengan berbagai perolehan, koleksi amal kebaikan selama bulan suci Ramadhan.
Kemudian setelah memasuki bulan Syawal dan bulan berikutnya, mereka terlena, lalai dan tidak lagi konsekwen, tidak istiqamah lagi dalam menjalankan amanah, ibadah wajib sudah tidak lagi diutamakan, amal kebaikan yang bernilai ibadah selama bulan suci Ramadhan, mereka tukar dengan dengan tindakan keburukan, kejahatan dan kemaksiatan. Sehingga nilai-nilai ibadah, aneka ragam amal kebaikan
” ‘amalush shalihat ” mereka tukar dan mereka ganti dengan ” ‘amalus sayyi-aat ” yaitu dengan beragam amal keburukan, segala kegiatan yang berbau kemaksiatan.

Dalam hal ini Allah Swt memberikan sentilan halus yang menusuk relung hati mereka yang beriman dalam Al-Quran :

” Wa laa takuunuu kal latiy naqadhat ghazlahaa min bakdi quwwatin ankaatsaa ”

Artinya : ” Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali “.

Ayat ini sangat relevan sekali dengan fenomena umat Islam pasca bulan suci Ramadhan. Selama bulan suci Ramadhan mereka berkonsentrasi penuh untuk melakukan berbagai aktivitas, kegiatan yang bernilai amal ibadah di sisi Allah Swt.
Tetapi, alangkah naifnya setelah bulan Ramadhan berakhir, seolah-olah selesai pulalah rangkaian amal kebaikan itu.

Kejadian serupa ini bukanlah terjadinya pada tahun ini saja, akan tetapi fenomena yang miris ini, hampir berlangsung setiap tahunnya di daerah saya dan juga di negeri Anda.

Pasca bulan suci Ramadhan yang sarat dengan keberkahan, ampunan dan keistimewaan, lalu disambut oleh bulan Syawal dengan penuh kegembiraan, dengan melantunkan kalimah thayyibah. Lantunan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih menggema di angkasa raya.

Sepertinya bertahan untuk beberapa hari saja, meskipun diikuti dengan saling mendo’akan agar amal ibadah di bulan suci Ramadhan diterima oleh Allah Swt dan setiap tahunnya selalu dalam kebaikan dan keberuntungan. Juga
Iringan saling memaafkan pun datang bertubi-tubi dari para sanak keluarga, karib kerabat, handai taulan dan masyarakat.

Setelah beberapa saat berselang, arus mudik yang selalu dirindukan oleh lapisan masyarakat, kini telah berakhir. Para perantau pun telah beranjak dari rasa rindu, kangen dan taragak dengan kampung halaman. Mereka pun telah mulai kembali ke daerah perantauan untuk melanjutkan aktivitas, kegiatannya masing-masing.

Seiring dengan itu pun, suasana yang kondusif, ramai, penuh tawa, ceria dan bahagia bertemu dengan sanak saudara. Kembali dipisahkan oleh tempat dan jarak, karena masing-masing kembali ke tempat masing-masing
Begitu pula gambaran, fenomena di bulan Syawal, masjid yang ramai dikunjungi oleh umat di bulan suci Ramadhan, kini sudah mulai lengang dan sepi. Sepertinya jamaah musiman telah berangkat dan kembali ke habitatnya, kini tinggallah jamaah inti.

” Amal kebaikan Jangan Tukar
Dengan Kemaksiatan ”

Setelah berhasil melakukan berbagai rangkaian amal kebaikan yang bernilai ibadah di sisi Allah Swt pasca bulan suci Ramadhan. Bahkan umat Islam yang beriman, yang telah melaksanakan ibadah puasa dengan maksimal dan diikuti oleh aneka ragam amal kebaikan, yang telah menjadikan shaa-imiin wash-shaa-imaat, meraih kemenangan, menggondol titel muttaqin, orang yang bertaqwa, sekaligus memperoleh kembali kesucian, fitrah, seperti seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

Untuk mengantisipasi terjadinya degradasi ketaqwaan di kalangan umat Islam, agar bisa meningkatkan kualitas ketaqwaan dan mempertahankan kesucian. Agar amal kebaikan, jangan ditukar kemaksiatan.

‘ Amalush shalihat jangan berubah fungsi menjadi ‘amalus sayyi-aat. Ada beberapa tip, kiat-kiat jitu yang diperintahkan Allah Swt kepada umat Islam pasca meraih kemenangan, ketaqwaan dan kembali mendapat kesucian, tanpa noda dan dosa karena telah mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Hal ini dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al-Quran :

” Muniibiina ilaihi wattaquuhu wa aqiimushshalaata wa laa takuunuu minal musyrikiina “
Artinya : ” Dengan Kembali bertobat kepada-Nya, dan bertakwalah kepada-Nya serta Laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah “. ( Q.S. 30.31 ).

Berdasarkan ayat di atas inilah resepnya :

1. Umat Islam harus kembali bertobat kepada Allah Swt setiap saat. Bukan hanya di bulan suci Ramadhan saja, tetapi kapan dan di mana saja umat Islam harus selalu dekat dengan Allah Swt.

2. Selalu bertaqwa kepada Allah setiap saat, kapan dan di mana saja berada. Baik sewaktu sendirian maupun di tengah keramaian. Bagaimana pun juga Allah Swt tetap bersamamu di mana saja kamu berada, ” Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum “.

3. Kamu wajib senantiasa mendirikan shalat, terutama bagi kaum laki-laki dianjurkan sangat untuk shalat berjamaah di masjid dan menjadi bagian orang-orang yang mencintai masjid..

4. Jangan sampai kamu termasuk orang-

orang yang mempersekutukan Allah Swt. Allah Swt melarang keras hamba-Nya untuk melakukan berbagai kegiatan atau ritual, ibadah yang akan bisa membawa dan menjerumuskannya kepada praktik mempersekutukan Allah dengan yang lainnya.

Allah Swt menegaskan balasan bagi mereka yang mempersekutukan-Nya, tidak akan diampuni oleh Allah Swt, karena perbuatan ini adalah dosa besar.

Semoga kita terjauh dan terlepas dari degradasi kehilangan keimanan dan ketaqwaan dan bisa mempertahankan kesucian pasca bulan suci Ramadhan, aamiiin … wallaahu a’lam bishshawaab.

Penulis : adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan dan Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag Dharmasraya. *