SEBAGAIMANA telah diketahui oleh umat Islam, bahwa di antara keberkahan dan keistimewaan bulan suci Ramadhan adalah diturunkan-Nya Al-Quran pada bulan suci Ramadhan. Hal ini tertera jelas sekali dalam surah Al-Baqarah ayat 185 :
“Syahru Ramadhaanal ladziy unzila fiihil Qur-aanu hudallinnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaani”.
Artinya : ” Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) “. (Q.S.2.185).
Di samping itu Allah Swt juga menghadiahi umat Islam di bulan suci Ramadhan, adanya suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yang dikenal dengan “Lailatul Qadar” yaitu salah satu malam yang dipilih oleh Allah Swt khusus untuk umat Islam. Hal ini juga dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :
“Innaa anzalnaahu fiy lailatil qadri”
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar”.
Apabila beramal pada malam ini, sebanding dengan amal yang dilakukan seribu bulan. Seperti ditegaskan Allah Swt dalam firman-Nya :
“Lailatul qadri khairum min alfi syahrin”.
Artinya : ” Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan “. (Q.S. 97.3).
Malam kemuliaan itu merupakan berkah dari turunnya Al-Quran. Sebagaimana dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran surah Ad-Dukhan ayat 3 – 5 :
“Inna anallaahu fiy lailatim mubaarakatin innaa kunnaa munziriina, fiihaa yufraqu kullu amrin hakiimin, amram min ‘indinaa, innaa kunnaa mursiliina”.
Artinya : ” Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul ” . (Q.S.44.3-5).
Kenapa malam itu dinamakan Lailatul Qadar?
Malam kemuliaan itu, dinamakan malam ” Lailatul Qadar ” karena pada malam tersebut Allah Swt membeberkan rezeki, ajal dan hal-hal lain yang akan terjadi pada tahun tersebut kepada para malaikat.
Dalam surah Al-Qadar ayat 2 s/d 5 dijelaskan Allah Swt secara spesifik tentang malam qadar sebagai berikut :
” Wa maa adraaka maa Lailatul qadri, Lailatul qadri khairum min alfi syahrin, tanazzalul malaa-ikatu war ruuhu fiihaa biizni rabbihim min kulli amrin. Salaamun hiya hattaa mathla’il fajri “. (Q.S. 97.2-5).
Artinya : “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar “. (Q.S.97.2-5)
Dalam hal ini Prof. Dr. H. Quraish Shihab dalam bukunya ” Wawasan Al-Quran ” menyatakan bahwa malam qadar itu adalah sebagai berikut :
Kapan Lailatul Qadar terjadi?
Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW seperti yang termaktub dalam Shahih Bukhari. Diceritakan bahwa sebenarnya Rasulullah Muhammad SAW sangat berkeinginan untuk mengabarkan kapan datangnya Lailatul Qadar.
Akan tetapi urung, tidak jadi karena pada waktu itu ada dua orang dari kaum muslimin yang bertengkar, berbantah bantahan, bertengkar dan saling mengutuk. Sehingga Allah Swt menganulir, menarik kembali pernyataannya. Seperti dijelaskan dalam Sabda Rasulullah Muhammad SAW :
” ‘An ‘Ubaadatabnish Shaamiti qaala : kharajan nabiyyi SAW liyukhbiranaa bilailatil qadri, fatalaa haa rajulaani minal muslimiina, faqaala : ” Inniy (1/I8) kharajtu liukhbirakum bilailatil qadri, fatalaa haa fulaanun wa fulaanun, farufi’at, wa ‘asaa ayyakuuna khairal lakum, faltamisuu haa fit taasi’ah, was saabi’ah wal khaamisah “. (Wa fii riwaayatin : at-tamisuuhaa fis sab’i, wat tas’i, walkhamsi).
Artinya : ” Ubaidah Ibnush Shamit berkata : “Nabi SAW keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya LailatulQadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda : ” (Sesungguhnya aku 1/18), keluar untuk memberitahukan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan.
Lalu diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, dan mungkin hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia Lailatul Qadar pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima.
Dalam satu riwayat : carilah Lailatul Qadar itu pada malam ketujuh, kesembilan dan kelima “. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan hadis di atas boleh jadi malam Lailatul qadar itu, datangnya pada malam ganjil sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Yaitu, pada malam ke-21, 23, 25, 27 dan malam ke-29 bulan Ramadhan.
Lailatul Qadar hadiah istimewa bagi umat Islam.
Sepanjang sejarah umat beragama, yang mempercayai keesaan Allah Swt, tidak pernah ditemukan dan tidak pernah dirilis oleh pakar sejarah umat terdahulu, mengenai Lailatul Qadar. Hanya umat Islamlah yang mendapatkan anugerah istimewa dari Allah Swt berupa Lailatul Qadar.
Hal ini diungkapkan oleh Imam Malik dalam kitabnya ” Al-Muwath-tha’ ” : “Ketika Rasulullah Muhammad SAW melihat usia umat terdahulu, seolah-olah usia umat beliau tidak akan mampu menyamai amal yang dikerjakan oleh umat terdahulu. Allah kemudian memberikan ” Lailatul Qadar ” kepada beliau, yang lebih baik dari seribu bulan”.
Masya Allah wa Tabaarakallaah, memang luar biasa kasih sayang Allah Swt kepada umat Islam. Meskipun, secara usia umat akhir zaman berkisar antara 70 tahun dan 100 tahun umurnya. Tetapi Allah Swt memberikan opsi dan apresiasi kepada umat Islam, untuk meraih Lailatul Qadar.
Dengan meraih Lailatul Qadar, secara otomatis usia umat Islam bertambah durasi dan kualitas nilai ibadahnya kepada Allah Swt setiap tahunnya, sebanyak 83 tahun lebih.
Justeru itu, jangan disia-siakan kehadiran bulan suci Ramadhan yang banyak keberkahan, ampunan dan keistimewaan bagi kita umat Islam. Adapun penyebab keistimewaan tersebut adalah diturunkan-Nya Al-Quran di bulan suci Ramadhan.
Bagaimana Menjemput Lailatul Qadar itu?
Tatkala memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan, maka Rasulullah Muhammad SAW melakukan i’tikaf di masjid.
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk melakukan ketaatan kepada Allah secara khusus. I’tikaf hukumnya adalah sunnah, yang disukai oleh Rasulullah dan para sahabat beliau.
Bahkan Rasulullah Muhammad SAW ketika telah memasuki 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan, beliau mengikat erat ikat pinggangnya, tidak berhubungan dengan para isterinya. Akan tetapi Rasulullah Muhammad SAW membangunkan keluarganya untuk melakukan berbagai amal ibadah, shalat, membaca Al-Quran, mentadabbur Al-Quran, berzikir kepada Allah Swt sebanyak-banyaknya.
Justeru itu kehadiran bulan Ramadhan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebaiknya kita jemput dengan melakukan i’tikaf, berdiam diri di masjid, penuh konsentrasi dan fokus untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dengan i’tikaf kita jemput Lailatul Qadar dengan amal yang dicintai oleh Allah Swt :
” ‘An Abiy Hurairata RA Qaala : Man qaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahuu maa taqaddama mindzanbihi “. ( H.R. Bukhari ).
Artinya : ” Dari Abi Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : ” Barangsiapa yang mendirikan ( shalat malam ) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau “. (H.R. Bukhari).
” Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul “afwa wa’fu ‘anniy “.
Artinya : ” Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan dan maafkanlah aku “.
Justeru itu, di malam Lailatul Qadar yang kita tunggu dan dambakan tersebut, kita lebih mengutamakan berdo’a, minta ampunan, mohon kehidupan yang akan datang lebih baik, lebih bermanfaat, lebih bermartabat untuk kehidupan dunia akhirat kita.
Maka, disinilah fungsi latihan selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, kita diberikan pembinaan aqidah tauhid, keyakinan, kepercayaan akan adanya Allah Swt yang selalu mengawasi hamba-Nya.
Dalam berpuasa rasanya kita sangat dekat dengan Allah Swt. Mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari, kita mampu menahan haus, lapar dan dari segala hal yang akan membatalkan nilai ibadah puasa. Padahal kita bisa melakukan apa saja, semua fasilitas ada pada kita, tetapi kita tidak mau membatalkan puasa, karena adanya keyakinan Allah Swt Maha Melihat dan Maha Segalanya.
Di samping itu, orang yang berpuasa merasakan sangat dekat dengan Allah Swt, sehingga apa pun yang dilakukan di bulan puasa, mereka meyakini akan dilihat, diperhatikan dan diawasi oleh Allah Swt setiap saat.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt :
” Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum, wallaahu khabiirum bimaa ta’maluun “.
Artinya : ” Dan Dia bersama kamu di mana saja berada dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (Q.S.57.44).
Justeru itu, kita berharap kehadiran bulan Ramadhan jangan disia-siakan, sebagai bulan latihan dan pembinaan karakter, kepribadian, terutama sarana untuk meningkatkan keyakinan kepada Allah Swt. Setidaknya melatih diri dan keluarga untuk selalu menaati Allah dan Rasul-Nya.
Banyak hal yang kita dapatkan di bulan Ramadhan, di antaranya nilai-nilai ibadah, nilai kedisiplinan, nilai sosial, nilai akhlak dan nilai pendidikan.
Tatkala berpuasa kita dapat merasakan sendiri betapa susahnya orang yang tak punya, fakir dan miskin dalam memenuhi kebutuhannya.
Dengan ibadah puasa melahirkan rasa empati, sikap peduli, solidaritas untuk bisa berbagi dan meningkatkan silaturahmi, kebersamaan dengan sanak saudara dan lingkungan.
Setiap amal kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan dilipatgandakan nilainya. Melaksanakan ibadah sunah diberikan bonus oleh Allah Swt senilai ibadah wajib. Sedangkan melakukan ibadah fardhu Allah Swt memberikan apresiasi, penghargaan yang luar biasa. Termasuk gemar berinfaq di bulan Ramadhan sangat mulia di sisi Allah Swt.
Apalagi dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, merupakan ibadah yang istimewa. Karena penilaiannya langsung diberikan oleh Allah Swt.
Seperti dijelaskan Allah Swt dalam hadis Qudsi :
” Ash-shaumu liy wa ana ajziy bihi “.
Artinya : ” Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasinya “. (H.R. Imam Bukhari).
Demikianlah di antara amal kebaikan yang harus kita lakukan dalam menjemput Lailatul Qadar. Mudah-mudahan dengan penuh keikhlasan, sambil mengharapkan ridha Allah Swt kita diberikan kesempatan oleh Allah Swt melaksanakan rangkaian ibadah pada malam Lailatul Qadar, aamiiin, wallaahu a’lam bishshawaab.
Penulis adalah Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakan Kemenag Dharmasraya. *)

















