Tanjung Pinang. Beninginfo.com – Suasana malam di Mata Air, Desa Kundur, Kecamatan Kundur Barat, terasa lebih hangat dan meriah selama bulan Ramadan. Deretan lampu colok yang menyala di sepanjang jalan dan halaman rumah warga menjadikan lingkungan kampung tampak terang serta memberikan pemandangan yang indah.
Tradisi lampu colok merupakan kebiasaan yang telah lama dijaga oleh masyarakat setempat setiap datangnya bulan suci Ramadan. Sejak sore hari, warga mulai menyiapkan lampu yang terbuat dari kaleng bekas maupun bambu yang diisi minyak tanah dan sumbu. Lampu-lampu tersebut kemudian dipasang di depan rumah, di tepi jalan, bahkan disusun membentuk berbagai pola yang menarik.
Memasuki malam hari, warga secara bersama-sama menyalakan lampu colok yang telah dipasang sebelumnya. Cahaya lampu yang berjejer rapi menciptakan suasana hangat sekaligus menambah semarak malam Ramadan di kampung tersebut.
Hamdani, selaku Ketua Lampu Colok di Mata Air, menyampaikan bahwa tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa setiap tahunnya warga bergotong royong dalam proses pembuatan hingga pemasangan lampu colok. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi upaya menjaga tradisi, tetapi juga menghadirkan momen kebersamaan bagi warga yang saling bekerja sama dan berkumpul dalam suasana kekeluargaan.
“Tradisi lampu colok ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kampung kami. Setiap tahun warga bersama-sama menyiapkan dan memasang lampu colok. Selain menjaga tradisi, kegiatan ini juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga,” ujar Hamdani.
Pada masa lalu, lampu colok digunakan sebagai penerangan jalan bagi masyarakat yang hendak menuju masjid atau surau untuk melaksanakan ibadah malam selama bulan Ramadan. Seiring perkembangan waktu, fungsi tersebut tetap dipertahankan sekaligus berkembang menjadi simbol kebersamaan serta warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Kepala Dusun 3 Mata Air, Apera Dewi Sartika, menyampaikan apresiasi kepada para pemuda yang telah berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Ia mengucapkan terima kasih atas waktu dan tenaga yang telah diberikan oleh para pemuda sehingga tradisi lampu colok tetap dapat dilaksanakan setiap tahun di kampung tersebut.
“Terima kasih kepada para pemuda yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan tradisi lampu colok ini, sehingga tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat kampung kita tetap berjalan,” ujarnya.
Masyarakat berharap tradisi lampu colok ini dapat terus dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal serta menjaga budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Selain itu, keindahan lampu colok yang menghiasi lingkungan kampung juga kerap menarik perhatian masyarakat dari daerah sekitar untuk datang dan menyaksikan suasana malam Ramadan yang bercahaya.****Iyo

















