Rohul,beninginfo.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Rokan Darussalam menyoroti kondisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ujung Batu Timur, Kecamatan Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu, yang dilaporkan masyarakat sudah lama tidak beroperasi. Sejumlah pengaduan warga disebut telah diterima lembaga tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua LBH Rokan Darussalam, Indra Ramos SHI, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan masyarakat dengan melakukan penelusuran lebih lanjut guna mengetahui penyebab tidak aktifnya BUMDes tersebut.
“Kami menerima pengaduan dari masyarakat Desa Ujung Batu Timur terkait BUMDes yang disebut sudah tidak beroperasi. Laporan ini akan kami telusuri untuk mengetahui permasalahan sebenarnya,” ujar Indra Ramos saat ditemui di Kantor LBH Rokan Darussalam, Selasa (10/2/2026).
LBH Rokan Darussalam menyebut dugaan awal persoalan BUMDes kemungkinan berkaitan dengan pengelolaan dan manajemen usaha. Namun, pihaknya menegaskan kesimpulan akhir baru dapat disampaikan setelah proses pendalaman dilakukan secara menyeluruh.
“Dugaan sementara ada persoalan dalam pengelolaan usaha, kemungkinan karena kurangnya pemahaman manajerial. Tapi ini masih perlu kami dalami agar tidak terjadi kesimpulan sepihak,” tutup Indra Ramos.
Selain itu, berdasarkan laporan warga, Direktur BUMDes Ujung Batu Timur, Gali Purnawan Hidayat, disebut jarang terlihat di kantor BUMDes. Menindaklanjuti informasi tersebut, awak media mendatangi kantor BUMDes dan meminta klarifikasi langsung kepada pihak pengelola.
Gali Purnawan Hidayat membantah anggapan bahwa BUMDes tidak aktif. Ia menegaskan dirinya tetap hadir menjalankan tugas dan menyebut kondisi usaha hanya mengalami kendala akibat kredit macet dari sejumlah nasabah.
“Saya hadir setiap hari. Terkait BUMDes Ujung Batu Timur mandek itu tidak benar. Memang ada kredit yang sudah dicairkan kepada nasabah dan mengalami kemacetan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persoalan kredit macet membuat pengelolaan BUMDes menjadi lebih berat. Namun, sejumlah program usaha lainnya disebut masih berjalan, seperti penyewaan ruko, wahana bermain, pengelolaan kebun sawit, serta program hidroponik untuk ketahanan pangan.
“Memang kredit macet membuat kami agak kesulitan, tapi program lain tetap berjalan,” tutupnya.***(Ari Wibowo)
















