Ajak Generasi Muda Pertahankan Bahasa Daerah, FTBI Riau 2026 Sentuh Media Digital

Selebrasi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Riau Tahun 2026 di Hotel Mutiara Merdeka, Pekanbaru.

BENINGINFO.COM , PEKANBARU – Selebrasi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Riau Tahun 2026 kembali dihelat di Hotel Mutiara Merdeka, Pekanbaru, Senin (28/9/2026) malam.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan FTBI 2026 dikemas dengan menyentuh ranah digital. Melalui pengiriman video daring untuk cabang lomba cerpen, puisi, mendongeng, pidato, hingga aksara Arab Melayu, anak-anak dituntut adaptif dengan kemajuan teknologi.

Penggunaan media digital terbukti menjadi nilai tambah tersendiri. Para tunas muda tidak hanya belajar mencintai bahasa daerah, tetapi juga terlatih memanfaatkan sebagai konten kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kegiatan selebrasi ini makin berkesan dengan diperkenalkannya kategori penghargaan khusus bagi kabupaten/kota terbaik.

Daerah yang memiliki pengimbasan paling luas, memiliki regulasi muatan lokal (perbup/perwali).
Serta dukungan anggaran berkelanjutan berpeluang meraih penghargaan Nasional dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2027 mendatang.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr Umi Kulsum SS MHum mengatakan, FTBI merupakan satu upaya mempertahankan bahasa daerah kepada generasi muda.

Ia membeberkan realitas memprihatinkan terkait kondisi kebahasaan Nasional. Dari 729 bahasa daerah di Indonesia, sebagian besar mengalami pergeseran akibat masuknya budaya luar hingga maraknya perkawinan campur.

Bahkan di pusat-pusat perkotaan Riau, kekhawatiran serupa mengemuka tatkala banyak anak sekolah yang tidak lagi familiar menuturkan bahasa Melayu.

Fenomena inilah yang memacu Balai Bahasa Provinsi Riau untuk terus menggalakkan program revitalisasi.

“Penggunaan media digital terbukti menjadi nilai tambah tersendiri. Para tunas muda tidak hanya belajar mencintai bahasa daerah, tetapi juga terlatih memanfaatkan sebagai konten kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman,” sebutnya.

Kabid Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Jahrona Harahap menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan kegiatan ini.

Ia menilai pentingnya tahapan sistematis revitalisasi bahasa daerah yang kini telah memasuki tahun ketiga. Mulai dari bimbingan teknis guru utama, pengimbasan ke sekolah-sekolah, hingga pemantauan dan evaluasi yang terukur.

Kendati dihadapkan pada tantangan keterbatasan ruang fiskal daerah serta keterbatasan SDM pengajar, tapi semangat guru dan murid-murid sangat luar biasa.

“Kami dari Dinas Kebudayaan Provinsi Riau terus berkomitmen untuk berkolaborasi dan memfasilitasi setiap langkah penyelamatan bahasa ibu ini,” ujarnya saat membuka acara tersebut.

Acara selebrasi malam itu pun ditutup dengan rajutan pantun yang hangat dan kebanggaan yang membuncah. Binar bahagia siswa SD dan SMP yang tampil menjadi penanda bahwa bahasa dan sastra Melayu di Riau akan terus bernapas lega dan dirawat oleh generasi penerusnya. (Hadi)